UKM Roti di Babakan Kurangi Produksi dan Pegawai

Seorang Pelaku UKM khusus Roti sedang mengemas roti produksinya, Senin, 14 September 2020.Produksinya berkurang dan pegawainya diliburkan karena sepi pembeli di era pandemi covid-19. (

Menurunnya omzet usaha pembuat roti di Kelurahan Babakan, Sandubaya, Mataram dikeluhkan oleh pelaku usaha di wilayah tersebut. Penurunan sendiri terjadi sejak pandemi virus corona (Covid-19) masuk ke NTB sejak Maret lalu.

Beberapa UKM di Babakan tersebut melakukan berbagai upaya untuk bisa bertahan. Salah satunya mengurangi jumlah produksi dan jumlah pekerja karena tidak bisa membayarkan upah.

Iklan

Hal tersebut seperti dialami salah satu pemilik UKM pembuat roti di Babakan, Husna, yang mengurangi jumlah produksi karena permintaan untuk roti buatannya yang menurun sejak pandemi. Dengan penurUnan jumlah produksi tersebut, pendapatan bulanan dari usahanya mengalami penurunan drastis sejak lima bulan terakhir.

“Pembelinya tidak ada. Sejak covid pembelinya berkurang, bisa sampai 50 persen dari (kondisi normal) biasanya,” ujar Husna saat ditemui Suara NTB, Senin, 14 September 2020. Diterangkan, saat ini dirinya hanya bisa mengakomodir jumlah produksi secukupnya. Antara lain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan mencukupkan pembayaran upah pekerja.

Berbeda dengan kondisi normal, di mana dirinya dapat mengolah hingga 10 karung tepung untuk sekali pembuatan berbagai jenis roti. “Sekarang paling cuma lima karung tepung buatnya. Ini karena sepi pembeli, bukan bahan bakunya mahal. Uang juga sekarang berkurang,” ujarnya.

Selain mengurangi jumlah produksi, dia juga harus mengurangi jumlah jam kerja untuk pegawainya. Diterangkan, untuk kondisi normal dirinya bisa melakuan aktivitas produksi selama 9 jam. Namun sekarang usahanya hanya melakukan produksi selama 7 jam per hari.

Kendati demikian, dirinya berusaha untuk tidak melakuan pemutusan hubungan kerja (PHK) di tengah kondisi sulit saat ini. Hal tersebut dilakukannya karena melihat kebutuhan yang sama dari para pegawainya untuk bisa bertahan menghadapi pandemi yang terjadi.

Hal serupa dialami oleh pemilik UKM pembuat roti lainnya, Saprah, yang mengeluhkan dampak pandemi Covid-19 terhadap usaha miliknya. Diterangkan, karena berkurangnya pemintaan dari pasar pendapatan bulanan usahanya menurun. Karena itu dirinya memilih mengurangi jumlah pekerja karena tidak sanggup membayar upah.

“Turunnya hampir setengahnya (pendapatan normal) sejak pandemi. Akhirnya kita kurangi karyawan, ada sekitar lima orang,” ujarnya. Sebelumnya, usaha miliknya beroperasi dengan 12 orang pegawai. Namun saat ini hanya tersisa tujuh orang saja. “Sepi pembeli karena orang-orang takut ke pasar. Jadi, makanya terbatas kita punya omzet sekarang,” sambungnya.

Selain mengurangi jumlah pekerja, dia juga mengurangi julah produksi. Di mana sebelum pandemi dirinya dapat mengolah hingga 8 karung tepung. Namun saat ini terbatas hingga tiga karung tepung 25 Kg per hari. “Kita berharap bisa berhenti covid ini, supaya bisa normal lagi produksinya kita. Kalau begini terus semakin susah,” tandas Saprah. (bay)