Uji Coba, 4 Ton Chip Porang KLU – Lobar Dikirim ke Jawa Timur

Pengiriman porang dari KLU dan Lobar hasil binaan Astra didistribusikan dalam bentuk chip ke Pulau Jawa. (Suara NTB/ist)

Tanjung (Suara NTB) – Prospek ekonomi komoditas porang (Lombos) di Lombok mulai menunjukkan progres positif. Petani melalui Perkumpulan Petani Porang Nusantara (PEN) NTB, mengawali pengiriman untuk pasar mancanegara melalui perusahaan di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Koordinator P3N KLU, Putra Anom, Kamis, 16 September 2021 mengungkapkan, distribusi porang sudah dimulai dalam bentuk chip, Rabu lalu. Sebanyak 4 ton chip, dikirim ke Jombang sebagai sampel.

Iklan

“Chipporang yang dikirim dari KLU dan Lobar. Yang dari KLU, dipenuhi dari Kelompok Sambik Elen, Loloan, Senaru dan Akar-Akar,” ucapnya.

Ia menyambung, kelompoknya di Sambik Elen sendiri akan menargetkan pengiriman chip tahun 2022 mendatang. Untuk langkah tersebut, pihaknya sudah mempersiapkan sarana dan prasarana pendukung, seperti lantai jemur. Di saat bersamaan, pihaknya juga sudah siap mengoperasikan mesin chip bantuan Pemprov NTB.

Putra Anom menyebut, prospek ekonomi komoditas porang di Lombok Utara cukup besar. Petani hanya perlu memastikan ketersediaan lahan sebagai lokasi tanam. Selanjutnya petani akan diintervensi oleh pendampingan budidaya dari Unram, BPTP, dan Pemda KLU.

“Ke depan kita tidak akan kirim gelondongan, tapi dalam bentuk chip. Kebetulan harganya juga tinggi, 36.000 per kg kering. (Dibandingkan dengan harga gelondongan basah Rp 3.000 per kg, red),” paparnya.

Ia dan petani porang lain di KLU optimis, ekonomi petani akan berubah drastis dari hasil budidaya ini. Selain adanya semangat bertani porang yang mulai tumbuh, ketersediaan pasar ikut merangsang para petani.

Kendati demikian, setiap budidaya dan usaha petani tidak lepas dari kendala. Untuk kelompok di KLU sendiri, kendala yang masih ditemui adalah terbatasnya alat pengering, lantai jemur sempit, dan tidak semua kelompok memiliki mesin pengolah chip.

“Pada saat proses pengeringan, konsumsi sinar matahari harus banyak. Lantai jemur juga harus memadai,” imbuhnya.

“Memang prasarana pendukung masih minim, seperti lantai jemur di masing-masing kelompok. Ke depan kita harapkan kelompok bisa mengatasi secara bersama-sama,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perkebunan (DKP3) KLU, Tresnahadi, S.Pt., tak menyangkal masih banyaknya kendala dalam budidaya dan proses pengolahan chip. Hal ini dirasakan wajar, sebab porang termasuk komoditas baru bagi petani, sehingga di awal mula budidaya dan industrialisasinya, masih ada sarana dan prasarana yang belum bisa disediakan secara instan.

“Kami dari DKP3 tentu sangat mendukung pengembangan porang di KLU. Apalagi porang KLU sudah dijual ke luar daerah yang artinya bahwa proses pemasaran tidak ada kendala,” ujarnya.

Selaku pemangku kebijakan di sektor pertanian, Tresnahadi menyebut jika pihaknya akan mengawal petani porang dengan berbagai upaya. Misalnya memperkuat pembinaan bersamaan dengan instansi lain – Universitas Mataram, BPTP, Astra dan perbankan.

Selanjutnya, untuk tahun 2022 mendatang, pihaknya masih akan menyesuaikan program yang mendukung porang. Mengingat masih ada kendala pemenuhan bibit di masyarakat, khususnya bibit bersertifikat.

“Dan Alhamdulillah porang KLU sudah terdaftar di Kementan dan saat ini proses pelepasan varietas porang KLU sudah sedang berproses. BPTP sedang  melakukan tes DNA porang KLU dan hasilnya akan keluar akhir tahun ini. Jika hasil sudah keluar, kami akan susun proposal pelepasan varietas porang KLU ke Kementan,” ujarnya.

“Insya Allah hari Senin – pekan depan, Kepala BPTP NTB akan bertemu Bupati KLU untuk membahas pelepasan varietas porang KLU. Tentu ke depan, kami akan membantu pengadaan bibit dan lainnya,” demikian Tresnahadi.(ari)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional