Udara Panas di NTB Dipicu Gerak Semu Matahari

Ilustrasi gerak semu matahari (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Beberapa pekan terakhir, masyarakat merasakan matahari terik dan udara terasa panas siang  hingga malam hari. Anomali cuaca ini memicu rasa panas, padahal saat ini sudah memasuki musim hujan.

Penjelasan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi, bahwa  cuaca panas dan terik akhir- akhir ini merupakan fenomena alamiah dan lumrah terjadi secara berulang di wilayah NTB.

Iklan

Faktor utama kondisi tersebut, dipicu gerak semu matahari. Gerak semu terjadi pada bulan September sampai  Oktober 2018, bahkan berlanjut Januari hingga Maret 2019.

Fenomena gerak semu adalah dimana posisi matahari berada tepat di atas wilayah NTB, dengan  koordinat Lintang NTB   8° 10′ – 9°5′ Lintang Selatan (LS).

‘’Jadi pada bulan – bulan tersebut umumnya suhu udara di NTB lebih hangat dari bulan bulan sebelumnya,” kata Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi BIL, I Gusti Agung Angga DS, S.Tr kepada Suara NTB, Minggu, 13 Januari 2019.

 Soal kenapa bisa terjadi pada saat musim penghujan? Dijelaskan Agung Angga, sebab meski pun bersamaan dengan  musim penghujan, tidak setiap hari hujan turun. Akan ada fase di mana cuaca cerah ketika siang hari, kemudian berawan pada sore dan malam hari.

‘’Umumnya pada saat fase tersebut, panas yang dipancarkan pada siang hari oleh matahari secara langsung mencapai ke permukaan bumi,’’ jelasnya.

Penyebab suhu panas pada malam hari, lanjutnya, akibat permukaan bumi melepaskan panas ke angkasa. ‘’Panas tersebut merupakan panas yang terakumulasi sebelumnya dari matahari pada siang hari,’’ ujarnya menjelaskan.

Lanjutnya, karena panas yang seharusnya terlepas ke angkasa tertahan oleh awan, sehingga udara panas terjebak di permukaan bumi dan menyebabkan suhu semakin panas.

‘’Intinya, kejadian cuaca panas dan terik di NTB lebih sering terjadi pada pada bulan-bulan puncak musim kemarau tetapi juga bisa terjadi pada saat musih penghujan,” pungkasnya. (ars)