Uang Edisi Baru Beredar, Inflasi Dikhawatirkan Naik

Mataram (suarantb.com) – Beredarnya pecahan uang rupiah baru tahun emisi 2016 di NTB menimbulkan kekhawatiran akan timbulnya inflasi. Jika tidak dikendalikan dengan baik, tingginya jumlah uang yang beredar di masyarakat dapat berpengaruh pada meningkatnya angka kemiskinan. Demikian disampaikan akademisi Universitas Mataram, Dr. M. Firmansyah.

“Bila uang beredar bertambah, namun barang dan jasa yang diproduksi tetap. Maka akan terbentuk keseimbangan harga baru yang lebih tinggi. Orang mau bayar berapa saja dengan kuantitas yang sedikit. Maka inflasi akan mungkin menjulang tinggi,” jelasnya.

Iklan

Dengan kondisi uang yang dipegang masyarakat berada dalam jumlah banyak, sementara produksi barang tidak bertambah, maka masyarakat akan berbondong-bondong mengeluarkan uangnya. Dengan jumlah pembeli banyak, maka dipastikan harga akan naik. Sehingga jumlah uang banyak, namun tetap daya beli rendah.

“Bila inflasi tinggi, kita akan masuk jebakan money illusion. Uang banyak padahal kemampuan belinya sedikit. Imbasnya nanti kemiskinan bertambah,” komentarnya.

Menurut Firmansyah, kemunculan uang baru ini harusnya dibarengi dengan penarikan uang lama. Sehingga jumlah uang yang beradar di masyarakat tidak terlalu banyak. “Harusnya segara ditarik yang lama, digantikan yang baru,” tambahnya.

Sementara menurut pengakuan Kepala Perwakilan BI NTB, Prijono jumlah uang baru yang dialokasikan untuk NTB hanya sekitar Rp 4 miliar. Tentu jumlah ini tidak bisa memenuhi kebutuhan uang NTB yang sudah mencapai angka Rp 1 triliun lebih. Sehingga tentunya tidak memungkinkan untuk dilakukan penarikan seluruh uang lama.

Berkaitan dengan beredarnya uang baru ini Direktur Utama Bank NTB, H. Komari Subakir meminta masyarakat untuk menggunakan uang seminimal mungkin. “Sebaiknya masyarakat terus berikhtiar menggunakan uang seminimal mungkin. Kurangi transaksi secara tunai. Kalau mau beli barang agak mahal, jangan langsung dibeli. Hematlah intinya,” ujarnya.

Dengan mengurangi belanja tunai, maka memungkinkan jumlah uang yang beredar berkurang. Sehingga bisa menekan inflasi di NTB yang saat ini sudah mencapai angka 0,20 persen. (ros)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here