Tutupi Defisit Anggaran, Bupati Lotim: Kita “Peras Handuk”

Bupati Lotim H. M. Sukiman Azmy bersama Ketua DPRD Lotim, Murnan usai Rapat Paripurna, Senin (13/9).

Selong (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Lotim) mengalami defisit anggaran belanja cukup besar. Pengajuan pinjaman ke Bank NTB Syariah sebesar Rp 90 miliar untuk menutupi defisit tidak mendapatkan persetujuan. Kondisi ini memaksa Lotim melakukan rasionalisasi total sejumlah item belanjanya.

“Kita “peras handuk” lagi agar bisa membayar yang sudah dikerjakan,” ungkap Bupati Lotim, H. M. Sukiman Azmy saat diwawancara usai Rapat  Paripurna tentang ABPD Perubahan 2021 di  DPRD Lotim, Senin, 13 September 2021.

Iklan

Bupati mengaku Pemda Lotim sudah berusaha maksimal untuk menutupi defisit. Perasan handuk istilah Bupati ini ditujukan kepada rencana-rencana belanja pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Item-item belanja yang dirasa kurang mendesak dipangkas bahkan ditiadakan. Antara lain kegiatan peningkatan pendidikan dan keterampilan, pemeliharaan sarana dan prasarana nihil. Kegiatan tersebut katanya siap akan digelar lagi ketika situasi nanti sudah normal.

Dalam pandangan bupati, terkait Rancangan Perubahan APBD Kabupaten Lotim Tahun Anggaran 2021 terlihat juga antara pendapatan daerah Rp2,8 triliun dengan belanja masih terpaut jauh sebesar Rp 3,89 triliun.

Adapun struktur pendapatan daerah yang direncanakan dalam Rancangan   Perubahan APBD Tahun Anggaran 2021, antaralain, Pendapatan Asli Daerah, direncanakan sebesar Rp438 meningkat sebesar  Rp 28 ,3 miliar atau 6,91% dari  jumlah PAD sebelum perubahan sebesar Rp 409 ,8 miliar. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran tahun anggaran 2020 sebesar Rp 23,683 miliar lebih atau mengalami penurunan sebesar Rp 61,869 miliar lebih dari anggaran sebelum perubahan sebesar Rp85,553 miliar.

Ketua DPRD Lotim, Murnan, S.Pd., yang dikonfirmasi terpisah mengatakan pihaknya akan mencoba melihat detail dulu terkait gambaran keuangan Lotim pada APBD-P. Diakui dalam dokumen KUA PPAS sebelumnya tergambar anggaran Lotim mengalami defisit puluhan miliar.

Diketahui rencana pinjaman ke Bank NTB Syariah juga batal, sehingga eksekutif perlu melakukan rasionalisasi terhadap sejumlah belanja. Terlihat mengalami perubahan adalah adanya peningkatan pendapatan hingga Rp 6 miliar yang diharapkan berpengaruh besar dalam menutup kekurangan. (rus)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional