Turunkan Stunting, Libatkan Ribuan Pendamping

0
Nurhandini Eka Dewi (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB optimis mampu menurunkan angka stunting hingga mencapai target yang telah ditetapkan. Terlebih dengan adanya Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Angka Stunting Indonesia (RAN PASTI) yang telah dimulai di NTB, sehingga upaya-upaya penurunan angka stunting akan lebih fokus.

Asisten III Setda NTB dr. Nurhandini Eka Dewi mengatakan, untuk menurunkan angka stunting, BKKBN telah melatih sekitar 2000 orang pendamping se NTB. Mereka terdiri dari kader Posyandu, bidan desa, dan kader KB. Mereka melakukan pendampingan di setiap desa/kelurahan melalui beberapa kegiatan. Sehingga target 14 persen angka stunting di tahun 2024 diharapkan bisa tercapai, atau setidaknya mendekati angka 14 persen.

IKLAN

“NTB di tahun 2018 itu (data Riskesdas-red) stunting di angka 30 persen lebih ya. Namun berdasarkan hasil pengukuran ril di Posyandu melalui pengukuran e-PPGBM di angka 19,5 persen,” kata Nurhandini Eka Dewi kepada Suara NTB akhir pekan kemarin.

Ribuan pendamping stunting tersebut mendapatkan dana insentif dari APBN, karena program ini sifatnya nasional. NTB membutuhkan sekitar 5000 orang pendamping, karena di setiap desa/kelurahan terdapat lima orang pendamping yang akan melakukan upaya pencegahan dan penanganan bayi stunting di lingkungan masing-masing.

Pada tanggal 23 Maret 2022, dilakukan sosialisasi RAN PASTI di Kota Mataram dengan menghadirkan para bupati/walikota se NTB atau pejabat yang mewakilinya. Provinsi NTB memang didorong oleh pemerintah pusat untuk memprioritaskan penanganan stunting yang hingga saat ini persentasenya masih cukup tinggi. Terlebih Provinsi NTB merupakan salah satu dari 12 provinsi yang memiliki prevalensi stunting tertinggi secara nasional di tahun 2022 ini.

Inspektur Utama BKKBN Ari Dwikora saat itu mengatakan, penurunan angka stunting di NTB ditargetkan setidaknya menjadi 17,98 persen di tahun 2024 mendatang dari angka stunting berdasarkan data tahun 2018 sebesar 31 persen lebih.

Berdasarkan Data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, separuh wilayah di NTB berstatus “merah” alias memiliki prevalensi stunting di atas 30 persen. Tepatnya sebanyak lima daerah berstatus merah dan lima daerah berstatus kuning atau memiliki prevalensi stunting diantara 20 hingga 30 persen.

Target angka stunting di akhir 2022 adalah bisa mencapai 26,85 persen, sedangkan di 2023 bisa menurun lagi menjadi 22,42  persen sehingga NTB di tahun 2024 bisa menuju angka prevalensi stunting di 17,98 persen. Jika hal ini tercapai maka NTB bisa memberikan kontribusi yang maksimal dalam penurunan angka stunting nasional.

Stunting merupakan sebuah kondisi gagal pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak-anak akibat kurangnya asupan gizi dalam waktu lama, infeksi berulang dan stimulasi psikososial yang tidak memadai terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Stunting ditandai dengan pertumbuhan yang tidak optimal sesuai dengan usianya.

Dengan ancaman kesehatan dan kecerdasan, maka generasi yang terkena stunting akan mengalami berbagai permasalahan dalam menghadapi tantangan kehidupan yang semakin beragam ke depannya.(ris)

IKLAN