Turun, Harga Gabah di Bima

Ilustrasi Gabah. (Sumber : Piqsels)

Bima (Suara NTB) – Memasuki panen raya padi tahun ini, harga gabah di Kabupaten Bima mulai menurun. Seperti halnya di Desa Bontokape Kecamatan Bolo, per kilogram paling tinggi diambil pengepul Rp3.800. Tidak tertutupinya beban biaya produksi atas nilai pembelian tersebut, memaksa sejumlah petani menjual hasil pertanian itu langsung ke gudang penggilingan.

Salah seorang petani di Desa Bontokape, Jamaludin kepada Suara NTB, Minggu, 21 Maret 2021 menyampaikan, pada masa awal panen pertengahan maret kemarin, nilai pembelian gabah dengan kadar air sedang Rp4.500/Kg. “Awal-awal tinggi, tapi sekarang mulaiu turun sampai Rp3.800,” cetusnya.

Iklan

Harga Rp3.800/Kg, merupakan nilai pembelian tertinggi dari pengepul. Bahkan tak sedikit gabah petani mereka ambil Rp3.600-Rp3.700/Kg dengan alasan kadar air tinggi. Kondisi ini, menurutnya tentu sangat membebani petani, apalagi di tengah tingginya nilai produksi, baik untuk biaya penanaman, pembelian obat-obatan maupun panen.

Pada lahan seluas 1 Ha, petani hanya mendapat bantuan pupuk subsidi dari pemerintah 1 zak. Padahal, kebutuhan idealnya sampai 7 zak. Kekurangan 6 zak terpaksa ditanggulangi dengan membeli pupuk non subsidi yang notabene harganya sangat tinggi. “Kalau menghitung biaya yang sudah keluar dengan harga beli sekarang ini jelas ndak sebanding,” keluhnya.

Tak diketahui pasti penyebab terus menurunnya harga pembelian gabah oleh pengepul. Namun mengingat itu berpotensi merugikan petani, Jamaludin memilih melakukan pengeringan secara mandiri lalu menjualnya langsung ke pusat penggilingan.

Dengan harga pengambilan berkisar Rp900 ribu sampai Rp1 juta per 100 Kg beras, ia menganggap biaya produksi mampu tertutupi bahkan ada keuntungan. “Lebih baik bawa langsung ke gudang ketimbang jual di pengepul. Makanya tidak heran banyak petani di sini melakukan pengeringan sendiri,” pungkasnya. (jun)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional