Turun 70 Persen, Penjualan Lobster Konsumsi

Hasan Gauk menunjukkan salah satu lobster konsumsi yang harganya Rp1,5 juta per Kg. (Suara NTB/rus). 

Selong (Suara NTB) – Selama masa pandemi Covid-19, pengiriman lobster konsumsi ke Jakarta menurun drastis. Permintaan untuk sajian menu  makanan  pada restoran dan rumah makan terkenal di ibu kota berkurang. Sebelumnya dalam sebulan pengusaha lobster di Lombok Timur (Lotim) bisa  mengirim hingga 10 kali. Sekarang maksimal 3-4 kali saja dalam sebulan.

‘’Menurun sampai 70 persen dibanding sebelum adanya pandemi,’’ ungkap Pengusaha Lobster sekaligus pendiri Serikat Nelayan Independen Lombok (SNIL)’, Hasan Gauk kepada Suara NTB, Selasa, 16 Februari 2021. Pembina para nelayan dan pembudidaya udang besar di wilayah Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lotim ini mengatakan meski menurun, tapi peluang bisnis lobster ini masih cukup prospektif ke depan.

Iklan

Saat ini, harga lobster  dinilai masih cukup bagus. Jenis mutiara dengan ukuran 2000 gram dijual seharga Rp 1,5 juta dan mutiara ukuran terendah dijual seharga Rp540 ribu. Jenis  Lobster  pasir termahal Rp550 ribu dan terendah Rp 500 ribu. Jenis Pakistan terendah ukuran 200 gram dijual seharga Rp 370 ribu dan termahal ukuran 800 gram keatas dijual seharga Rp 450 ribu. Jenis bambu dan batik termahal ukuran 800 gram keatas dijual seharga Rp 450 ribu dan terendah Rp 370 ribu.

Soal produksi sendiri katanya tidaklah pernah ada soal. Stok lobster yang akan dikirim masih cukup banyak. Dimana, rata-rata pengiriman saat in bisa 10 kwintal dalam sekali pengiriman. Jika dihitung dengan harga yang berlaku saat ini, maka akumulasi harganya bisa tembus Rp 1,5 miliar.  Hasan Gauk mengaku saat ini lebih memilih menjual lobster konsumsi dibandingkan benur atau bibit lobster. “Kalau bibit ini saya pernah rugi Rp600 juta, jadi sekarang saya fokus untuk lobster konsumsi,” terangnya.

Diterangkan, kebutuhan pasar sebenarnya cukup besar. Hanya saja memang akibat pandemi ini membuat permintaan menurun.  Jumlah nelayan yang pembudidaya lobster di wilayah Kecamatan Jerowaru dan Keruak di bawah binaan SNIL sendiri saat ini sebut Hasan Gauk sebanyak 4.700 orang. Perorang rata-rata memiliki 10 lokal Keramba Jaring Apung (KJA). Masing-masing lokal 200 ekor lobster. Salah satu daerah potensial tempat pengembangan budidaya lobster adalah Teluk Jukung. Teluk Jukung ini juga menjadi  lokasi budidaya nasional.

Hasan Gauk mengaku memiliki harapan besar bisnis lobster ini dijalankan oleh perusahaan daerah (Perusda). Perusda bisa berperan menjadi ekskportir. Bisa membangun kolam penampungan di Jakarta sebelum melakukan pengiriman ke luar negeri. Keuntungan yang diperoleh daerah sebagai pendapatan asli daerah (PAD) Lotim diyakinkan bisa empat kali  lipat.  “Harga di Lotim Rp1 juta per Kg, maka bisa dijual degan harga Rp5 juta per Kg,’’ ungkapnya. Bisnis eksportir lobster ini bisa dimulai dengan suntikan dana Rp 1 miliar. Dari dana ini dipastikan pemerntah bisa mendapatkan keuntungan besar. (rus)

Advertisementfiling laporan pajak filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional