Tunggu Hasil Audit BPKP, Penanganan Dugaan Korupsi Alsintan dan Dermaga Labuhan Haji

Irwan Setiawan Wahyuhadi. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Dugaan korupsi pengadaan alat mesin pertanian (alsintan) dan pengerukan kolam labuh Labuhan Haji saat ini masih di tangan Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) NTB. Pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Lotim masih menunggu hasil audit tersebut untuk proses lebih lanjut.

Hal ini disampaikan, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Lotim, Irwan Setiawan Wahyuhadi, ditemui di kantornya, Senin, 14 Juni 2021.

Iklan

Kajari menegaskan dua kasus itu penanganannya tetap berjalan. Bahkan,  Kejari Lotim sudah melakukan pemeriksaan sejumlah saksi dan mengantongi sejumlah alat bukti. Iapun berharap hasil audit dari BPKP cepat keluar yang menjadi rujukan untuk penanganan lebih lanjut.

“Dugaan korupsi alsintan dan dermaga Labuhan Haji tetap berjalan. Saat ini masih tahap audit BPKP,” terangnya.

Seperti dalam tahap penyidikan terhadap kasus dugaan tipikor alsintan Lotim tahun anggaran 2018. Kejari Lotim mengaku sudah mengantongi sejumlah nama calon tersangka. Jumlah calon tersangka ini diakuinya lebih dari satu orang.

Kajari enggan membeberkan nama-nama dan dari unsur mana sejumlah calon tersangka tersebut. Pastinya, kata dia, semuanya akan digelar ketika hasil audit dari BPKP sudah keluar dan nilai kerugian negara sudah pasti.

Diketahui bahwa nilai proyek pengadaan barang dan jasa sekitar Rp2 miliar. Puluhan saksi diperiksa baik dari unsur pemerintah pada saat program berjalan, mantan anggota DPRD Lotim, LSM, penerima manfaat dan beberapa pihak terkait lainnya. Begitupun untuk barang bukti alsintan beberapa sudah disita dari kelompok tani penerima waktu itu. “Kita juga sudah melakukan penyitaan terhadap alsintan yang berhasil kita temukan,”sebutnya.

Dalam kasus yang mulai diusut pada tahun 2020 ini terindikasi terdapat beberapa kejanggalan di dalamnya dengan waktu program alsintan tahun 2018. Beberapa jenis barang bantuan yang didistribusikan oleh pemerintah pusat berupa barang mulai dari traktor roda empat, traktor roda dua, pompa air, sprayer, pertanian dan rice transplanter.

Sementara untuk di kasus Kolam Labuh Dermaga Labuhan Haji, Kejari Lotim menemukan indikasi kerugian negara yang cukup fantastis sekitar, Rp9 miliar lebih dan denda dari nilai anggaran dalam proyek ini sebesar Rp38,9 miliar tahun anggaran 2018. Namun sayangnya proyek ini sama sekali tidak dikerjakan padahal pihak kontraktor sudah menerima uang muka sebesar 20 persen dan dilakukan pemutusan kontrak kerjasama saat itu. (yon)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional