Tumpang Tindih Hasil Kesehatan Chika, Parpol Pengusung Merasa Dirugikan

Muhammad Akri (Suara NTB/ndi) 

Mataram (Suara NTB) – Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang menjadi salah satu partai pengusung pasangan Balon Bupati/Wakil Bupati Dompu, Saifurrahman Salman-Ika Risky Feryani merasa dirugikan secara politik oleh tumpang tindihnya hasil pemeriksaan pihak Rumah Sakit terkait dengan pasien yang diduga terjangkit Covid-19.

Sekretaris DPW PPP NTB, Muhammad Akri kepada wartawan, Kamis, 10 September 2020 mempertanyakan keakuratan dan profesionalisme pihak Rumah Sakit dalam melakukan tindakan medis terhadap balon Wakil Bupati Dompu, Ika Risky Feryani alias Chika yang dinyatakan positif terpapar Covid-19.

Iklan

“Apa yang salah terhadap pemeriksa kesehatannya Chika ini. Rumah Sakit Provinsi menyatakan positif, tapi Rumah Sakit Unram menyantakan negatif, kok bisa mengeluarkan hasil yang berbeda. Satgas harus jeli dalam hal ini, karena ini pilkada, Chika menjadi calon, maka ini bisa jadi politis,” kata Akri.

Diketahui sebelumnya, Chika dikonfirmasi positif Covid-19 dari hasil swab atas pemeriksaan Laboratorium Genetik Sumbawa Technopark. Namun belakangan saat dilakukan swab mandiri di Rumah Sakit (RS) Universitas Mataram (Unram), justru menunjukkan hasil yang berbeda, Chika dinyatakan negatif dari hasil pemeriksaan laboratorium RS Unram. Pemeriksaan kembali dilakukan oleh laboratorium genetik Sumbawa Technopark hasilnya kemudian juga negatif. Ketika pemeriksaan dilakukan oleh pihak RSUP NTB, Chika kembali dinyatakan positif Covid-19.

“Dengan hasil seperti ini saya kira pihak rumah sakit harus berkoordinasi terlebih dahulu, supaya tidak ada tumpang tindih hasil pemeriksaan kesehatan terhadap seseorang. Kalau seperti ini orang politik bisa memandang lain-lain,” katanya. Ditengah status Chika yang saat Balon Wakil Bupati yang sudah melakukan pendaftaran ke KPU, hasil pemeriksaan kesehatan tersebut dikhawatirkan Akri bisa digunakan menjadi alat politik untuk menjatuhkan Chika oleh lawan politiknya.

“Secara opini kami rugikan, pertama, orang takut silaturahmi sama dia, kita juga yang ketemu sama dia menjadi khawatir juga. Kemudian ini momentum politik, bisa dipermainan, untuk bulan ini elektabilitas Chika sangat tinggi, maka kami tidak berlebihan kalau mencurigai ada indikasi ini dipolitisasi,” sebutnya.

Tapi kekhawatiran Akri yang jauh lebih besar bukan hanya sekedar pada kepentingan politik Chika selaku kandidat peserta Pilkada saja. Kekhawatiran terbesar Akri atas tumpang tindihnya hasil kerja pihak rumah sakit dalam penanganan Covid-19 ini menjadi perhatian masyarakat.

“Jangan sampai ini jadi pembicaraan orang, karena ini menyangkut trust masyarakat terhadap pihak rumah sakit terhadap penanganan Covid-19 ini. Masyarakat bisa jadi tidak percaya karena kasus ini, orang positif dibilang negatif, orang negatif dibilang positif. Trust rumah sakit ini harus dijaga di masyarakat, di tengah usaha keras pemerintah melawan Pandemi ini,” pungkasnya. (ndi)