Triwulan I, Royalti Ekspor Hasil Tambang Mencapai Rp95,5 Miliar Lebih

Dalam setahun, nilai royalty dari aktifitas pertambangan di Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat lebih dari Rp500 miliar. Bahkan pernah mencapai hampir Rp1 triliun saat pengelolaannya oleh PT. Newmont Nusa Tenggara.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Royalti dari hasil penjualan konsentrat ke luar negeri mencapai Rp95,5 miliar untuk triwulan I tahun 2021 ini. Ditengah kondisi Covid-19, nilai ini mengalami kenaikan, dibanding periode yang sama tahun 2020 lalu. Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi NTB, M. Husni, M. Si di ruang kerjanya, Jumat, 11 Juni 2021 menyampaikan, pada 27 April 2021, sudah dilakukan rekonsiliasi atas Penerimaan Negara Bukan Pajak  Sumber Daya Mineral dan Batubara (PNBP SDA Minerba) secara virtual.

Rekonsiliasi ini diikuti Direktorat Penerimaan Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Biro Keuangan Sekertarian Jenderal Kementerian ESDM, Dinas ESDM Provinsi NTB, dan Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi NTB.

Iklan

Untuk periode 2 Januari 2021-31 Maret 2021 PNBP SDA Minerba Provinsi NTB yang telah diidentifikasi dan telah direkonsiliasi terinci. Nilai royalty dari hasil penjualan hasil tambang Batu Hijau yang dikelola oleh PT. Amman Mineral Nusa Tenggara mencapai Rp95.551.781.312.

Sementara iuran tetap (landrent/sewa tanah) senilai Rp4.147.897.200. total royalty dengan landrent dari aktifitas penggalian dan penjualan hasil pertambangan pada triwulan I 2021 sebesar Rp99.699.678.512. Dalam PP No.45/2003 ini, tarif royalti bersifat ad valorem (dalam persentasi) dan dikenakan terhadap harga jual yang telah dikalikan dengan jumlah produksi. Adapun besarnya tarif berbeda-beda untuk setiap jenis dan kualitas bahan galian.

Iuran Tetap/Landrent/Deadrent adalah iuran yang dibayarkan kepada Negara sebagai imbalan atas kesempatan Penyelidikan Umum, Study Kelayakan, Konstruksi, Eksplorasi dan Eksploitasi pada suatu wilayah Kuasa Pertambangan/Kontrak Karya/ Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan. “Lumayan cukup besar, menolong kas daerah ditengah pandemi Covid seperti ini. kalau triwual I 2020 sekitar Rp60an miliar nilai royaltinya. Tahun ini naik, bisa dipengaruhi karena volume konsentrat yang di ekspor, bisa juga karena kualitas kadar konsentrat yang dikirim lebih bagus,” jelas mantan Penjabat Bupati Sumbawa dan Bupati Bima ini.

Bagaimana pembagian dari royalty dan landrent ini? dirincikan. Dari nilai total royalty ini, 80 persen diterima daerah (NTB). Terbagi lagi dari 80 persen tersebut, 16 persen diterima Pemprov NTB, 32 persen kabupaten penghasil  (Kabupaten Sumbawa Barat), dan 32 persen sisanya dibagi rata, sembilan kabupaten/kota di NTB, selain KSB. “Kalau landrent, itu 16 persen diterima provinsi, 64 persennya diterima kabupaten penghasil. Kabupaten/kota lainnya tidak kebagian kalau landrent. Uangnya sudah ada di kas negara, dan masuk ke daerah lagi,” jelas Husni.

Dalam setahun, nilai royalty dari aktifitas pertambangan di Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat lebih dari Rp500 miliar. Bahkan pernah mencapai hampir Rp1 triliun saat pengelolaannya oleh PT. Newmont Nusa Tenggara. “Uangnya yang diterima daerah, langsung masuk ke APBD untuk mendukung semua kegiatan pembangunan. Uangnya tidak ada di Dinas ESDM, ada di kasnya Bappenda,” demikian Husni. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional