Tren Investasi Bergeser ke Tempat Tongkrongan

Ilustrasi Kunjungan di salah satu tempat tongkrongan. (Sumber : XINHUA-5/ist)

Mataram (Suara NTB) – Tren berinvestasi bergeser. Sebelumnya, investasi di sektor properti yang paling populer. Kini, tempat-tempat tongkrongan yang menjamur. Apalagi setelah pandemi corona, beberapa bulan sejak triwulan I 2020, aktivitas manusia paling banyak di rumah. Kegiatan-kegiatan di luar rumah dibatasi. Untuk mengendalikan penularan virus corona, di kota-kota besar, pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberlakukan.

Sejak diberlakukannya kenormalan baru (new normal) oleh pemerintah di Indonesia, pelan-pelan aktivitas di luar rumah menggeliat. Mungkin karena jenuh, mereka yang siap, langsung menangkap peluang ini. Adalah Hairil Anwar, salah satu dosen muda di Universitas Mataram yang menggagas dibukanya tempat tongkrongan baru, di pojok hotel Giri Putri depan lapangan Sangkareang, Kota Mataram. Tempat tongkrongannya menyediakan berbagai jenis menu. Variasi lalapan ayam dan bebek.

Iklan

“Saya melihat ada peluang membuka tempat-tempat tongkrongan dan tempat – tempat makan,” katanya kepada Suara NTB. Setiap hari tempatnya ramai dikunjungi. Terutama di malam hari, apalagi di akhir pekan. Investasi untuk membuat tempat tongkrongan ini terbilang tak besar. Namun lumayan, menjawab kebutuhan. Di Mataram, tempat-tempat tongkrongan ini menjamur.

Beragam konsepnya. Dari yang menyasar lapisan menengah ke atas, hingga ke segmen yang biasa-biasa saja. Ketua Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) Provinsi NTB, Agus Ariana mengatakan, investasi besar saat ini sudah tidak sangat memungkinkan. Misalnya membangun gedung, hotel, atau yang sejenisnya. “Hotel yang sudah ada saja, kalau ada yang jual, dijual. Kondisi saat ini sangat berat, berat sekali,” katanya.

Agus Ariana mengatakan, tren berinvestasi berubah. Lebih banyak yang memilih membuka tempat tongkrongan, apalagi di tengah kepenatan karena virus korona. Pemilik modal lebih melirik kebutuhan primer (kebutuhan pokok). Berinvestasi di rumah dan tanah juga berat, kata Agus. Apalagi saat ini yang memiliki modal harus berusaha mempertahankan modal yang dimilikinya. Semuanya wait and see. Apalagi belum ada tanda-tanda kepastian, berakhirnya corona.

Agus Ariana mengatakan, berinvestasi ke tempat-tempat tongkrongan dipilih sebagai bagian dari upaya recovery dari dampak corona, sekaligus melawan corona. “Karena kepenatannya. Orang kebanyakan cari hiburan, walaupun harus dengan protokol Covid-19. Trennya orang ingin mengalihkan perhatiannya dari corona,” ujarnya.

Investasi Rp100 sampai Rp200 juta yang tengah berkembang. Bisa juga dilihat, munculnya bisnis-bisnis baru yang bertalian dengan upaya recovery dari corona. Misalnya bisnis tanaman hias, bisnis ikan hias. Selain investasi di untuk kebutuhan primer. (bul)