Transaksi Pasar Lelang Komoditas Agro Ke-VI Mencapai Rp500 Juta Lebih

Kepala Bidang PPDN, H. Prihatin Haryono membuka kegiatan pasar lelang komoditas agro ke VI dan Kepala Dinas Perdagangan NTB, Drs. H. Fathurrahman, M. Si. (Suara NTB/bul)

Giri Menang (Suara NTB) – Bidang Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri (PPDN) pada Dinas Perdagangan Provinsi NTB kembali menyelenggarakan kegiatan Pasar Lelang Komoditas Agro ke VI di Hotel Jayakarta, Rabu, 27 Oktober 2021. Pertemuan pengusaha penjual dan pembeli ini berhasil meraup transaksi mencapai setengah miliaran.

Transaksi jual beli didominasi beras. Mencapai Rp450 juta, menyusul kayu manis Rp33,5 juta. Kopi luwak Rp30 juta, jagung Rp25 juta dan kopi robusta Rp4 juta. Kegiatan pasar lelang ke VI ini berlangsung tertib, lancar selama setengah hari. Dengan wajib mematuhi protokol kesehatan. Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, H. Fathurrahman, M.Si melalui Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri, Ir. H. Prihatin Haryono, M.Si mengatakan, pemerintah terus berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi menuju arah yang lebih positif, ditengah pandemi Covid-19.

Iklan

Salah satu upaya tersebut adalah memfasilitasi kegiatan pasar lelang. Dimana, pengusaha penjual dan pengusaha pembeli komoditas agro dipertemukan. Tawar menawar komoditas, lalu menyepakati dan bertransaksi langsung. Tanpa perantara dan tanpa mata rantai pemasaran yang panjang. Sehingga nilai dan kesepatan transaksinya efektif dan efisien.

Puluhan pengusaha mengikuti kegiatan pasar lelang ke VI kemarin. Sekaligus perwakilan dari Dinas Perdagangan di kabupaten/kota yang nantinya akan menjadi pepanjangan tangan para pelaku usaha komoditas di kabupaten/kota. Komoditas agro umumnya adalah hasil – hasil pertanian secara luas. Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), dan semua hasil produk makanan.

Seperti diketahui, kata Haryono, sektor pertanian adalah sektor unggulan dan tetap eksis meski pandemi covid-19 sejak awal tahun 2020 lalu. Produksi komoditas relatif terganggu. Namun salah satu persoalan yang dihadapi adalah terbatasnya akses pasar. Maka dengan pasar lelang, akses pasar komoditas yang dihasilkan dibuka seluas-luasnya.

“Pandemi tidak menurunkan aktivitas produksi para petani. Cuma satu kesulitannya, pemasaran. Sehingga alternatifnya adalah kita pertemukan penjual dan pembeli dalam kegiatan pasar lelang,” ujar mantan Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB ini. Pasar lelang ke VI ini juga diharapkan memberi manfaat kepada penjual dan pembeli.

Antara lain, posisi tawar komoditi bisa bersaing dan transparan. Tata niaga pemasarannya lebih pendek. Komoditas dapat terjual dalam waktu singkat dalam jumlah besar dengan adanya kepastian penjual/pembeli. Selain itu, mendorong petani untuk meningkatkan mutu dan produktivitas karena adanya peluang pasar. Meningkatkan pendapatan petani. Pembeli dan penjual bertemu langsung (konvensional) atau juga melalui sistem online. Dan tentu yang sangat diharapkan adalah menggerakkan perekonomian kata Haryono.

Ada dua klasifikasi pasar lelang. Yaitu pasar lelang spoot atau penyerahan barang segera setelah transaksi dan barang tersedia di gudang. Dan penjual pasar lelang forward atau  penyerahan barang kemudian hari dan perlu waktu 1 – 6 bulan, dan barang belum tersedia.

Haryono juga menekankan, agar kesepakatan yang dibangun dalam kegiatan pasar lelang akan terlaksana. Tidak ada gagal serah, atau tidak ada gagal bayar setelah terjadi transaksi antara penjual dan pembeli. “Walaupun sudah ada kesepakatan di sini. Tapi sekatu-waktu harganya bisa berubah sehingga batal transaksi. Itu tidak kita harapkan. Harapan kita transaksi tetap bisa dijalankan sesuai kesepakatan,” demikian Haryono. (bul)

Komoditas yang dipasarkan pada kegiatan pasar lelang VI

Peserta pasar lelang VI

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional