Transaksi di Pasar Modal NTB Mencapai Rp2,3 Triliun

Workshop pasar modal di Mataram, Rabu, 14 Oktober 2020. Transaksi Investor NTB di Pasar Modal Mencapai Rp2,3 Triliun. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Sejak Januari 2020 hingga September 2020, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah transaksi pada investor asal NTB di Pasar Modal. Nilainya mencapai Rp2,3 triliun. “Transaksinya ini adalah jual dan beli produk pasar modal,” kata Kepala BEI Mataram, Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana.

Transaksi jual beli di Pasar Modal ini meliputi produk saham, obligasi dan reksadana. Ditemui di ruang kerjanya di BEI Mataram, Rabu, 14 Oktober 2020, Ngurah menjelaskan, selama Bulan Juni 2020, BEI mencatat transaksi tertinggi, khususnya jual beli saham oleh investor NTB. nilainya mencapai Rp483 miliar. “Kalau dikaitkan dengan masa pandemi Covid-19, pada Juni ini transaksinya paling tinggi,” katanya.

Sementara pada September 2020, nilai transaksi jual beli sahamnya Rp349 miliar. BEI Mataram mencatat, transaksi saham Rp349 miliar pada September 2020 ini sebarannya Rp1.819.185.200 di Kabupaten Dompu, Rp22.077.277.700 di Kabupaten Lombok Barat. Di Kabupaten Lombok Tengah sebesar Rp5.003.230.100. Di Kabupaten Lombok Timur sebesar Rp13.783.899.900. Kemudian di Kabupaten Lombok Utara Rp587.729.600.

Menyusul di Kabupaten Sumbawa Rp19.752.374.400. Di Kabupaten Sumbawa Barat Rp66.254.346.300. di Kota Bima sebesar Rp12.755.227.900 dan di Kota Mataram terbesar mencapai Rp207.816.659.300. Sampai pada posisi September 2020, jumlah investor saham NTB yang tercatat di Pasar Modal sebanyak 8.765 investor.

Melihat transaksi investor saham di Pasar Modal ini, Ngurah mengatakan, masyarakat di NTB mulai familiar dengan Pasar Modal. Untuk mendorong lebih banyak investor NTB di Pasar Modal ini, BEI Mataram melakukan sosialisasi secara daring/online. Jika sosialisasi sebelumnya dilakukan terbatas secara offline, hanya terbatas di titik-titik tertentu, dengan online, jangkauannya lebih luas.

Ngurah melanjutkan, di masa pandemi Covid-19 ini, peluang bagi masyarakat untuk berinvestasi produk-produk pasar modal. “Harga saham lebih murah. Bagus buat calon investor kalau misalnya baru mulai. Dananya itu kecil tapi hasilnya bisa besar,” demikian Ngurah. Seperti diketahui, saham adalah tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan menyertakan modal tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas aset perusahaan dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Sementara Obligasi adalah istilah dalam pasar modal untuk menyebut surat pernyataan utang penerbit obligasi terhadap pemegang obligasi. Ringkasnya, penerbit obligasi adalah pihak yang berutang dan pemegang obligasi adalah pihak yang berpiutang. Dalam obligasi, dituliskan jatuh tempo pembayaran utang beserta bunganya (kupon) yang menjadi kewajiban penerbit obligasi terhadap pemegang obligasi. Jangka waktu obligasi yang berlaku di Indonesia umumnya 1 hingga 10 tahun. Reksadana sendiri adalah instrumen investasi yang menghimpun dana dari masyarakat untuk ditempatkan dalam Portofolio Efek oleh Manajer Investasi. (bul)