Tradisi Memperingati Nuzulul Qur’an, Warga Ombe Kediri Ziarah Makam Malam Hari Sambil Bakar 1.000 ‘’Dile Jojor’’

Warga Ombe Kecamatan Kediri melakukan tradisi ziarah makam pada malam hari dan membakar 1.000 dile jojor, Minggu, 2 Mei 2015. (Suara NTB/ist)

Giri Menang (Suara NTB) – Warga Dusun Dasan Baru Desa Ombe Kecamatan Kediri Lombok Barat (Lobar) memiliki cara yang sangat unik dalam memperingati Nuzulul Qur’an, yaitu dengan cara ziarah ke makam keluarga pada malam hari dengan membawa seribu lampu atau dile jojor yang terbuat dari bahan tanaman jamplung. Dile jojor itu kemudian dibakar di makam tersebut. Kegiatan ini merupakan agenda leluhur yang turun temurun.

Warga setempat masih melestarikan tradisi ini dengan berziarah ke kuburan menancapkan seribu lampu yang sudah dibakar. Dile jojor ini terbuat dari bahan bakar minyak buah jarak atau buah jamplung dengan sumbu kapas yang dibuat secara tradisional oleh masyarakat. Tradisi tersebut sudah dilakukan sejak dahulu secara turun temurun dari nenek moyang mereka. Tradisi ini biasa dilakukan pada malam ke 21 hingga malam ke 29 Ramadhan usai Salat Magrib atau usai berbuka puasa.

Iklan

Kepala Dusun Dasan Tebu Misrah mengatakan tradisi ini turun temurun dari nenek moyang. Tradisi ini sering dilakukan di malam yang ganjil dari hari ke 21, 23 ,25 sampai dengan 29 akhir Ramadhan. “Tradisi ini istilahnya maleman lampu seribu atau dile siu,” jelasnya.

Tradisi ini dilakukan karena di masa-masa yang lalu karena tidak ada lampu, sehingga dipakailah dile siu ini untuk penerangan. Sedangkan tujuan ziarah makam untuk mengingat para orang tua, pemuka masyarakat dan agama serta menghomati leluhur.

Ia menambah kegiatan ini sebagai bentuk parayaan Nuzulul Qur’an dan merupakan acara untuk tolak bala supaya warga setempat terhindar dari segala bencana baik penyakit maupun bencana alam.

Hal senada disampaikan  Ahmad Ridwan, tokoh masyarakat di Dusun Dasan Baru mengaku tujuannya untuk mencerminkan malam Lailatul Qadar.”Makanya kami beserta warga di sini mengaplikasikannya dalam bentuk membakar dile siu di kuburan” akunya.

Ridwan juga menambahkan ini adalah warisan dari nenek moyang yang kemudian mereka warga setempat melanjutkannya. “Kegiatan ini juga tidak kita lakukan di kuburan saja, tapi di sepanjang pinggir jalan juga” ujarnya.

Sebelum pembakaran dile siu ini warga setempat beserta tokoh agama dan tokoh masyarakat melaksanakan buka bersama yang dilanjutkan dengan dzikir dan do’a di masjid. (her)

Advertisementfiling laporan pajak ucapan idul fitri ucapan idul fitri Jasa Pembuatan Website Profesional