Tradisi, Alasan Pelajar Coret Seragam dan Konvoi

Mataram (suarantb.com) – Setelah menanti selama sekitar sebulan, akhirnya hari pengumuman kelulusan datang juga. Ketegangan, rasa penasaran dan ketakutan yang membuncah selama satu bulan setelah mengikuti UNBK akhirnya terbayarkan. Siswa MAN 2 Mataram, Rizaldi akhirnya menerima pengumuman kelulusannya hari ini, Selasa, 2 Mei 2017.

Setelah positif mendapatkan informasi bahwa ia berhasil lulus, Rizal dan belasan temannya segera menuju tempat sepi. Mereka memilih lokasi sekitar Lapangan Lawata untuk merayakan kelulusan. Tiga kaleng cat semprot merek Pylox menjadi ‘senjata’ mereka. Bergiliran memainkan warna merah, biru dan kuning di atasan seragam putih, layak seorang seniman handal.

Iklan

“Ini sudah tradisi, cara kita merayakan kelulusan setelah tiga tahun belajar. Lagian baju ini juga sudah ndak akan kita pakai lagi makanya kita coret-coret,” ucapnya pada suarantb.com.

Selain tradisi, aksi corat-coret ini juga diakui Rizal bisa menjadi kenangan tersendiri setelah berpisah dengan teman sekolahnya. “Kalau sudah lulus, udah jadi mahasiswa jangan saling melupakan. Dulu kan kita susah seneng bareng,” lontarnya. Rizal bertambah bahagia lantaran semua siswa di MAN 2 Mataram dinyatakan lulus seratus persen.

Setelah puas dengan coretan yang dihasilkan tangan-tangan mereka, Rizal dan kawan-kawan menyatakan akan melanjutkan dengan konvoi. “Tujuannya sih belum jelas, tapi biasanya kita tentuin nanti kalau sudah jalan. Dan biasanya akhirnya kita ngumpul di pantai, makan atau kumpul saja,” jawabnya.

Ditanya mengenai larangan melakukan corat-coret seragam, ia mengatakan sekolah tidak berhak melarang. “Karena kita kan sudah lulus, sudah bukan siswa di sekolah itu lagi. Jadi bebas kalau mau corat-coret,” sahutnya.

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB, Sukran yang dikonfirmasi terkait aksi corat-coret dan konvoi ini mengaku sebelumnya telah mengirimkan edaran ke sekolah-sekolah. Melalui surat edaran pelajar diperingatkan untuk tidak melakukan aksi corat-coret dan konvoi.

“Kita sudah bersurat ke kepala sekolah biar itu ndak dilakukan. Tapi kalau konvoi kita yakini dilakukan di luar sekolah, mereka berangkat dari rumah,” ujarnya.

Terhadap para pelajar yang menggelar konvoi, Sukran menyampaikan telah berkoordinasi dengan aparat agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Kita tidak bisa berikan sanksi, seperti menyita ijazah atau sebagainya. Aksi corat-coret baju juga tidak bisa diberikan sanksi,” imbuhnya. (ros)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here