TPPU Penipuan Lahan Rp16,5 Miliar Masuk Tahap Dua

I Gusti Putu Gede Ekawana. (Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Penanganan kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU) dari penipuan investor kawasan wisata di Pulau Lombok telah masuk tahap dua. Terutama setelah jaksa peneliti menyatakan berkas kasus tersebut lengkap. Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda NTB, Kombes Pol I Gusti Putu Gede Ekawana, menerangkan berkas kasus tersebut dinyatakan lengkap sejak pekan lalu. “Jadi sekarang kami tinggal melaksanakan tahap dua: pelimpahan tersangka dan barang bukti ke penuntut umum,” ujarnya saat memberi keterangan, Jumat, 20 November 2020 di Mataram.

Untuk melaksanakan tahap dua kasus tersebut diterangkan Ekawana masih menunggu kesiapan dari Penuntut Umum dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTB. Selain itu, berkas yang dinyatakan lengkap adalah milik tersangka berinisial ZA. Untuk terduga lainnya berinisial RO yang merupakan istri AZ disebut masih dalam pengembangan. Mengingat RO diduga terlibat menerima uang hasil penipuan investor kawasan wisata tersebut. “Sesuai dengan permintaan Jaksa, kalau berkas milik suaminya (tersangka ZA, Red) sudah tahap dua, masuk sidang. Baru kita lanjut ke berkas istrinya ini,” jelas Ekawana.

Sebagai informasi, korban kasus ini adalah seorang investor asal Jawa Timur bernama Andre Setiadi Karyadi. Tersangka ZA diketahui menjanjikan investasi lahan seluas 8 hektare kepada korban dengan nilai investasi mencapai Rp18 miliar. Lahan pariwisata yang dijanjikan tersangka antara lain berada di daerah Pandanan dan Meang, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, serta di kawasan Pantai Surga, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur.

Belakangan, janji penyediaan lahan tersebut tidak kunjung dipenuhi meskipun ZA telah menerima uang tunai dari Andre. Bahkan tersangka tidak kunjung memberikan sertifikat lahan yang dijanjikan. Akibat ulah tersangka, Andre yang bekerja sebagai tukang cuci piring di Amerika mengalami kesulitan kembali ke Indonesia sebelum utang pajaknya lunas terbayar. Untuk itu, Andre melaporkan perbuatan ZA ke Polda NTB.

Dari hasil penelusuran awal, tersangka diketahui menyamarkan uang hasil penipuan jual-beli tanah senilai Rp16,3 miliar tersebut melalui istrinya. Dasar itu yang kemudian menjadikan ZA sebagai tersangka dengan sangkaan Pasal 3 Juncto Pasal 4 Undang-Undang RI Nomor 8/2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Dalam proses pengembangan, penyidik kepolisian menemukan uang milik investor tersebut telah berubah menjadi aset tanah di sejumlah kawasan wisata di Pulau Lombok. Aset yang telah memiliki sertifikat tersebut dibeli atas nama RO, istri dari ZA.

Berdasarkan catatan pihak kepolisian, sertifikat lahan atas nama RO tersebut mencapai belasan petak. Di mana seluruhnya telah memiliki sertifikat hak milik (SHM) maupun sporadik. Sebagai tersangka tambahan, RO disangkakan Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 10 Undang-Undang RI Nomor 8/2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Seluruh aset lahan yang mengatasnamakan dirinya pun telah disita pihak kepolisian sebagai barang bukti. (bay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here