TPPO PMI Ilegal, Dua Korban Masih di Abu Dhabi

Tersangka HW, penyandang dana pengiriman warga Lombok PMI ilegal ke Arab Saudi (kanan) menjawab pertanyaan penyidik Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda NTB, Jumat, 6 Maret 2020. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Direktur PT Inti Japfarindo, HW (43) sudah mengirim sekurangnya 100 Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke luar negeri. Per satu orang yang dikirim, warga Kota Bekasi, Jawa Barat ini meraup untung Rp5 juta. Pengiriman PMI ilegal sudah dihentikan wanita ini sejak Oktober tahun lalu.

Hal itu diakuinya saat menjawab pertanyaan penyidik Subdit IV Remaja Anak Wanita Ditreskrimum Polda NTB dalam pemeriksaannya sebagai tersangka tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

Iklan

“Saya sudah merasa tidak nyaman dengan bisnis ini,” kata HW menjawab tentang aktivitasnya di perusahaan yang berhenti. HW sudah mengirim PMI ke Arab Saudi sejak tahun 2009.

Tempat penampungannya di Bekasi digerebek tim Kemenaker RI November 2019 lalu. Aktivitasnya hanya terhenti dua pekan akibat skorsing. Maklum, dia punya Perusahaan Pengirim PMI. Aktivitasnya itu seolah-olah resmi.

Saat mulai moratorium PMI ke Arab Saudi tahun 2016, dia tetap mengirim. Dia menyadari bahwa aktivitasnya itu ilegal.

“Setahun terakhir masih kirim. Setelah moratorium 2015, saya kirim khusus Asean, Malaysia, Singapura, Brunei,” bebernya.

Tujuan Timur Tengah memang jadi favorit. Utamanya Arab Saudi. Selain bayaran besar dari agensi, mengiming-imingi calon korban pun mudah. Tinggal tambah tawarkan bonus ibadah di tanah suci.

“Di sana ada agen syarikat-syarikat. Lupa namanya, ada Ahmad. Sekarang sudah tidak komunikasi. Saya sudah tidak ada kirim lagi,” ungkap HW, yang perusahan pengiriman PMI-nya punya cabang di Kota Bima ini.

Korban dari Lombok menurutnya juga mudah direkrut. Sebabnya, para korban menurut dia, memang meminta penempatan di Arab Saudi.

“Saya coba tawarkan Malaysia, Singapura tidak mau mereka. Alasannya majikannya non-muslim. Dorongan masyarakat ini saya coba komunikasikan dengan agen di luar negeri,” terangnya.

Kasubdit IV Renakta Ditreskrimum Polda NTB AKBP Ni Made Pujewati mengatakan pihaknya masih mendalami mengenai indikasi bertambahnya korban. Sebab, 42 korban dari NTB sudah dipulangkan November lalu. “Kita akan kembangkan ke korban lain,” ucapnya.

Dari kasus yang menjerat HW, korban yang teridentifikasi baru satu orang, yakni Siti Nurjanah, warga Desa Jago, Praya, Lombok Tengah. korban meninggal dunia dalam musibah kebakaran di Attaqwa, Mekkah, Arab Saudi Juni 2019. Sementara masih ada dua orang korban yang masih berada di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. (why)