TPPO Anak ke Arab Saudi, Bos Tekong Masih Diburu

Hari Brata. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Tekong pengirim pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal punya jaringan agen. Agen ini yang diduga sebagai pemodal perekrutan PMI ilegal. Modal dipakai untuk membujuk korban agar mau dipekerjakan di Arab Saudi.

Satu orang yang diduga korban sedang dalam proses pemulangan. Hal itu tampak dari penyidikan kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dengan tersangka NS alias AS, warga Praya Tengah, Lombok Tengah. NS memberi pesangon ke keluarga korban sebesar Rp3 juta.

Iklan

“Perusahaan atau agennya dia sedang kita telusuri. Kita akan panggil perusahaannya mengenai apakah adanya keterkaitannya dengan kasus ini,” beber Direktur Reskrimum Polda NTB AKBP Hari Brata, Kamis, 20 Februari 2020 kemarin. Dari pengungkapan kasus itu juga, sambung dia, penyidik mendalami modus tersangka NS dalam upaya memberangkatkan korbannya, seorang anak berumur 17 tahun.

Sampai saat ini korban memang belum dibuatkan paspor. Indikasi pemalsuan dokumen belum ditemukan. Korban berinisial SR juga mendapat iming-iming dari kawan sepermainannya yang sudah lebih dulu bisa bekerja di Arab Saudi.

“Ada pengaruh bujuk rayu temannya di Arab. Temannya. Kita sudah meminta bantuan Kemenlu untuk pemulangannyna. Diduga korban TPPO juga,” ucap Hari.

Tersangka NS alias AS (35) ditangkap Polda NTB pekan lalu. Dia disangka merekrut anak di bawah umur untuk dipekerjakan di Arab Saudi. Korban yang teridentifikasi satu orang. Namun, ada ditemukan lagi dua calon korban yang belum sempat berangkat.

“Kita masih dalami apakah ada korban-korban lain yang sudah diberangkatkan tersangka ini,” paparnya.

Tersangka menginapkan korban di rumahnya di Desa Lajut, Kecamatan Praya Tengah, Lombok Tengah sebelum memberangkatkannya ke Jakarta. Di Jakarta, korban ditampung di rumah sebuah perusahan agen penyalur PMI. Tersangka NS mendapat upah sebesar Rp3-4 juta dari agen setiap sukses merekrut satu calon PMI. (why)