TPA Rincung akan Dijadikan Pusat Industrialisasi ‘’Zero Waste’’

Madani Mukarom (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB akan menjadikan TPA Rincung menjadi pusat industrialisasi zero waste. Di mana, tempat tersebut akan dijadikan pusat pengolahan sampah skala besar menjadi pelet untuk  bahan bakar untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, Ir. Madani Mukarom, B. Sc.F, M. Si mengatakan produksi sampah menjadi bahan bakar PLTU akan ditingkatkan jadi 100 ton per hari. Saat ini, uji coba yang dilakukan di TPA Kebon Kongok, produksi peletnya baru 60 ton per hari.

Iklan

“Kita dorong sampai 100 ton per hari produksinya. Kita akan dorong di pusat industrialisasi pengolahan sampah di TPA Rincung,” kata Madani dikonfirmasi Suara NTB, Senin, 9 Maret 2020.

Madani menjelaskan untuk produksi pelet sebanyak 60 ton, membutuhkan bahan baku sampah sebanyak 120 ton. Artinya, hampir setengah sampah yang dibuang ke TPA Kebon Kongok sudah diolah menjadi bahan bakar untuk pembangkit listrik tenaga uap, campuran untuk batu bara.

Dengan teknologi ini, kata Madani semakin banyak sampah yang akan diselesaikan. Nantinya, Pemprov juga berencana di setiap desa ada mesin pengolah sampah jadi bahan bakar listrik seperti ini.

“Kita tinggal ambil nanti (peletnya). Kita sudah ada  kerjasama Pak Gubernur dengan PLN. Mereka yang akan beli nanti. Jadi banyak sampah yang terselesaikan nanti,” katanya.

Madani mengatakan PLN memiliki sejumlah pembangkit yang menggunakan bahan bakar batu bara. Seperti PLTU Jeranjang, PLTGU Lombok Peakers, PLTU Taliwang. Ada juga PLTU milik swasta seperti di Sambelia, PLTU milik PT. AMNT.

Melihat banyaknya PLTU di NTB, maka pasar untuk pelet hasil olahan sampah yang menjadi campuran batu bara ini cukup besar. Apalagi, kata Madani, Gubernur telah meminta PT. AMNT juga mengambil pelet campuran batu bara untuk pembangkit listriknya diambil dari NTB.

“Semakin besar lagi produksinya nanti,” terang Madani.

Pengolahan sampah menjadi pelet bahan bakar diharapkan menjadi solusi atas banyaknya sampah di NTB. Data Dinas LHK NTB, produksi sampah masing-masing kabupaten/kota setiap hari di NTB cukup tinggi. Kota Mataram produksi sampahnya sebesar 314,3 ton, Lombok Barat 469,56 ton, Lombok Utara 149,15 ton. Kemudian Lombok Tengah 645,73 ton, Lombok Timur 801,74 ton, Sumbawa Barat 92,39 ton, Sumbawa 311,85 ton, Dompu 164,27 ton, Bima 325,94 ton dan Kota Bima 113,83 ton.

Dari produksi sampah sebesar itu, sampah yang diangkut ke TPA di Kota Mataram sebanyak 283 ton tiap hari. Kemudian Lombok Barat 60 ton, Lombok Utara 21 ton, Lombok Tengah 12,25 ton, Lombok Timur 15,4 ton, Sumbawa Barat 28,7 ton, Sumbawa 115,97 ton, Dompu 39,6 ton, Bima 20 ton dan Kota Bima 46 ton.

Sekitar 80 persen sampah masih dibuang sembarangan. Sampah yang dibuang sembarangan jumlahnya  2.695,63 ton  tiap hari di seluruh NTB.  Dari 2.695,63 ton sampah yang dibuang sembarangan terdapat di Lombok Barat 409 ton,  Lombok Utara sebesar 128,15 ton, Lombok Tengah 627,67 ton, Lombok Timur 786,26 ton, Sumbawa 189,64 ton, Dompu dan Bima masing-masing 124,67 ton dan 286,38 ton. Kemudian  Kota Mataram hanya 15,59 ton, Sumbawa Barat 60,44 ton dan Kota Bima 67,83 ton. (nas)