Toko Cinderamata Pangkas Karyawan

Salah seorang pemilik toko cinderamata di Pasar Seni Sayang-Sayang menjaga sendiri tokonya sembari merapikan dagangannya. Pengunjung yang sepi membuat dia terpaksa memberhentikan karyawannya. (Suara NTB/bay)

Menurunnya tingkat kunjungan wisatawan akibat pandemi virus corona (Covid-19) turut memukul pelaku usaha oleh-oleh. Seperti dialami para pedagang di Pasar Seni Sayang-Sayang, Kota Mataram, di mana pemilik toko terpaksa memangkas jumlah pekerja lantaran tidak sanggup membayarkan upah.

Salah satu pemilik toko oleh-oleh di Pasar Seni Sayang-Sayang, H. Hamdan, mengaku tokonya mulai sepi sejak terjadi pandemi Covid-19. Meskipun pada awal pandemi dampak yang dirasakan oleh usahanya belum terasa, tapi beberapa bulan belakangan dirinya terpaksa harus mengurangi karyawan lantaran minimnya barang yang terjual.

Iklan

“Semua sudah kita berhentikan karyawannya. Sebelumnya ada lima orang yang kerja, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Karena gajinya tidak bisa kita berikan,” ujar Hamdan kepada Suara NTB, Jumat, 21 Agustus 2020.

Dicontohkan, dalam satu minggu tokonya hanya mampu mendapatkan omzet sebesar Rp100 ribu. Jumlah tersebut diakui sangat kurang untuk bisa mempertahankan usaha, terlebih pekerja yang menggantungkan nasib pada jenis usaha tersebut.

Mulai dibukanya hotel, destinasi wisata, dan penambahan jadwal penerbangan disebutnya belum banyak memberikan pengaruh. Pasalnya, wisatawan yang berusaha digerakkan saat ini adalah wisatawan domestik yang didominasi wisatawan dalam daerah dengan daya beli untuk oleh-oleh sangat minim.

“Walaupun sudah dibuka-buka (sebagian besar usaha dan destinasi pariwisata), tapi tamunya yang belum ada. Masih tamu-tamu lokal dari Lombok. Kalau tamu dari luar belum ada,” jelasnya.

Di sisi lain, variasi barang yang dijual juga disebutnya mengalami kemacetan. Di mana para pedagang oleh-oleh memilih menjual barang-barang lama lantaran belum sanggup menyetok barang-barang baru dari pemasok.

“Kalau ramai tamu, ada pemasukan bisa kita tambah lagi barang-barangnya. Untuk sementara barang-barang yang ada saja dijual,” ujar Hamdan.

Senada dengan itu, Rahmat yang juga memiliki usaha serupa mengaku kondisi saat ini memang sulit bagi pengusaha toko oleh-oleh. Untuk mempertahankan usaha, pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi salah satu pilihan yang terpaksa diambil.

“Kita tetap buka untuk bisa buat makan saja. Sekarang ini saya pengen ada solusi dari pemerintah, istilahnya ada bantuan corona atau apa begitu,” ujarnya. Menurutnya, semakin lama pandemi Covid-19 ditangani sektor usaha seperti yang dilakoninya akan cukup sulit bertahan.

Dengan stimulus yang juga menyasar sektor usaha seperti toko oleh-oleh pihaknya berharap dapat bertahan menghadapi situasi sulit saat ini. Pasalnya, bantuan stimulus yang diberikan pemerintah dinilai masih terkonsentrasi untuk pelaku Usaha Kecil Menengan (UKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM).

Pemerataan stimulus bagi sektor usaha yang lebih luas menjadi harapan satu-satunya bagi pihaknya. Mengingat tingkat kunjungan wisatawan diperkirakan belum dapat pulih sampai tahun depan, sedangkan sektor usaha pariwisata yang terdampak pandemi juga cukup banyak.

“Ini sepi sekali (tingkat kunjungan). Mau berharap sama wisatawan Lombok juga susah. Mereka yang datang juga cuma satu dua orang saja,” tutur Rahmat. (bay)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional