Toilet Bersih Masih Jadi PR Pemda

Mataram (Suara NTB) – Selama ini Dinas Pariwisata bersama Badan Promosi Pariwisata Daerah NTB tengah gencar melakukan promosi wisata. Baik dalam negeri maupun di luar negeri. Namun hal itu tidak diimbangi dengan pembenahan sejumlah fasilitas di berbagai destinasi wisata, salah satunya toilet. Bukan saja kotor, namun di beberapa tempat tidak ada ada toilet umum yang dibangun.

Tahun 2016, Pemerintah Provinsi NTB membangun setidaknya 38 toilet umum di destinasi wisata yang tersebar di semua daerah. Namun jumlah itu dianggap kurang, sebab di NTB terdapat banyak destinasi yang bahkan belum memiliki toilet.

Iklan

Tidak saja di destinasi wisata baru, destinasi sekelas Gili Air pun tidak memiliki toilet umum. Hal ini semestinya menjadi perhatian Pemerintah Daerah setempat. Sebab retribusi yang diambil dari wisatawan masuk ke Pendapatan Asli Daerah. Semestinya hal itu dapat dimanfaatkan untuk membangun sejumlah fasilitas umum, salah satunya toilet.

Sebelumnya Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB H. L. Moh. Faozal, S.Sos., M.Si mengatakan bahwa pihaknya memang sudah membangun sejumlah toilet di beberapa destinasi. Sementara untuk pemeliharaan menjadi tanggung jawab pengelola atau masing-masing daerah.

“Kita sudah buatkan, sekarang tugas pengelola, masyarakat bersama Pemda setempat untuk memelihara. Bagaimana caranya agar toilet itu tetap bersih dan membuat wisatawan merasa nyaman. Kan disana ada retribusi, bisa pakai itu untuk pemeliharaan,” ujarnya.

Beberapa destinasi yang mulai ramai dikunjungi wisatawan namun keadaan toiletnya belum standar, yaitu Pantai Ampenan, Pantai Mawun, dan Desa Sade. Selain itu ada pula Gili Kondo, Gili Nanggu, Pantai Kuta dan beberapa destinasi lainnya. Sementara di Pulau Sumbawa ada Pulau Kenawa, Pulau Paserang, Pantai Seliper Ate, Pantai Maluk, bahkan Wisata Mantar.

Bukan saja kotor, di beberapa destinasi bahkan tidak memiliki toilet umum. Misalnya Pantai Klui, Pantai Stangi, Pantai Nipah, Gili Air, Gili Trawangan, Gili Tangkong, Gili Kedis dan banyak lainnya. Beberapa destinasi itu belum memiliki toilet umum yang dapat digunakan wisatawan. Sebagian hanya menggunakan toilet seadanya yang dibuat oleh masyarakat setempat.

Belum lama ini, Pemda NTB telah melakukan kunjungan kerja sekaligus promosi pariwisata ke berbagai Negara. Diantaranya Korea Selatan, Jerman, Hongkong, Dubai, Inggris, Malaysia dan beberapa Negara lainnya.

Semestinya, NTB dapat mengadopsi sistem atau cara memelihara dan mengelola toilet agar tetap bersih seperti di Negara-negara tersebut. Misalnya Malaysia, pengamatan Suara NTB, di salah satu destinasi di Negara itu menerapkan sistem restribusi.

Dimana, setiap pengguna toilet dibebankan biaya hingga RM 2 atau sekitar Rp 6.500. Namun toilet tetap terlihat bersih, sebab petugas selalu bersiaga di depan toilet dan membersihkan setiap sekali pakai oleh pengguna.

Pemerhati Pariwisata I Gede Putu, M.Par mengatakan bahwa persoalan toilet masih belum selesai. Apalagi di NTB, selain kotor jumlah toilet juga masih kurang.

“Soal kebersihan toilet ini memang menjadi salah satu kendala pariwisata kita. Masyarakat kita ini masih sulit untuk mengubah tradisinya, tapi bukan berarti tidak bisa. Memang butuh waktu, dan selama itu perlu pengelolaan dengan manajemen yang baik,” ujarnya.

Belum lama ini, Suara NTB juga melakukan penelusuran di Gili Air. Di salah satu destinasi wisata unggulan ini pun belum dibangun toilet umum. Bukan itu saja, bahkan Gili Trawangan dengan jumlah wisatawan mencapai 2.600 orang setiap harinya juga belum memiliki toilet umum yang standar. Hasilnya, wisatawan terpaksa menggunakan toilet masjid.

Di destinasi kelas dunia ini, semestinya ada toilet yang berstandar atau bertaraf internasional. Sebagai penunjang dan pelengkap fasilitas dasar di destinasi ini. Bukan hanya wisatawan, warga sekitar pun tidak mengetahui ada atau tidak toilet umum di tempat ini.

Selain masjid, yang menjadi alternatif wisatawan adalah restoran atau bar terdekat. Ini merupakan pilihan satu-satunya apabila lokasi masjid jauh dari tempatnya. Ketiadaan toilet ini semestinya menjadi perhatian serius dan harus menjadi hal utama yang dibenahi oleh Pemdes Gili Indah maupun Pemda Kabupaten Lombok Utara, bahkan Pemprov NTB.

“Tidak ada toilet, saya tahan saja sampai bangsal,” gerutu Heni Indrayani, wisatawan asal Medan yang datang berkunjung ke Trawangan belum lama ini.

Retribusi masuk Trawangan tidaklah sedikit. Untuk satu kali penyeberangan, wisatawan harus membayar setidaknya Rp 15 ribu. Sementara setiap harinya wisatawan yang berkunjung ke Trawangan setidaknya ada 2.600 orang.

Jika ditotalkan pendapatan daerah dari tiket penyeberangan mencapai Rp 39 juta dalam satu hari. Dalam setahun pendapatan daerah dari penyeberangan itu mencapai Rp 1,4 miliar.  Jumlah itu bisa digunakan untuk membuat setidaknya tujuh toilet umum dengan klasifikasi berbintang.

Pemda NTB berikhtiar untuk menjadikan pariwisata sebagai salah satu sektor unggulan. Bahkan akan menjadikan destinasi terbaik di Indonesia. Namun ibarat jauh panggang daripada api, persoalan toilet masih belum teratasi. Keberadaan toilet ini sempat menjadi perhatian Menteri Pariwisata RI Arief Yahya. Sebab toilet yang ada pun masih belum memenuhi standar internasional.

Padahal, NTB bermimpi untuk menjadikan pariwisata NTB sebagai yang terbaik diantara pariwisata daerah lain. Seyogyanya Pemda NTB atau pemda setempat dapat membenahi dan melengkapi fasilitas toilet di tiap destinasi. (lin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here