TNGR Kembalikan Proyek Senilai Rp3 Miliar

Jembatan kecil penghubung jalur pendakian Sembalun ke Pelawangan yang rusak akibat gempa, masuk dalam perencanaan perbaikan oleh TNGR. (Suara NTB/ist_TNGR)

Mataram (Suara NTB) – Sejumlah item proyek milik Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) terpaksa dibatalkan setelah beberapa kali melalui proses evaluasi. Anggaran proyek senilai sekitar Rp3 miliar , diperuntukkan penataan jalur dan penambahan fasilitas trekking Rinjani.  Dana terpaksa dikembalikan ke pemerintah pusat  setelah melihat luasnya dampak gempa.

‘’Nilai proyek yang kita terima sekitar Rp2,5 sampai sekitar Rp3 miliar. Itu ada beberapa item. Terpaksa kita kembalikan ke pusat anggarannya,’’ kata Kepala Balai TNGR, Sudiyono kepada Suara NTB, Rabu, 31 Oktober 2018.  Menurut rencana, proyek itu akan diusulkan tahun 2019 mendatang, itu pun akan tergantung hasil survei jalur trekking yang rusak parah akibat ditimbun longsor.

Iklan

Menurut Sudiyono, anggaran tersebut sejatinya diperuntukkan pembangunan dan penataan di jalur resmi Sembalun Lombok Timur ke Pelawangan, atau dari Senaru Lombok Utara ke Pelawangan. Fasilitas perbaikan juga akan ditambah ke jalur menuju danau.

Beberapa penambahan fasilitas dan perbaikan itu seperti pembangunan shelter, perbaikan pos,  penataan jalur jalur menuju Pelawangan.

“Juga ada rencana pemasangan pipa air dari Pos tiga ke Pelawangan untuk kebutuhan air pendaki.  Tapi orang lewat saja bisa, apalagi mau bangun, sudah tidak bisa. Jadi, karena kaitannya dengan dampak gempa, situasinya tidak memungkinkan, anggarannya kita kembalikan,” terangnya.

Sementara ini anggaran yang ada dimanfaatkan untuk perbaikan ringan.  Sementara kerusakan berat, masuk dalam agenda usulan anggaran tahun 2019 berikut paket proyek yang dibatalkan.

Dalam rencana pembangunan tahun depan, pihaknya juga akan mempertimbangkan situasi. Dalam dua kali survei sebelumnya, kerusakan parah terjadi pada pos dan jalur yang tertimbun longsor. Jika akan dilakukan  perbaikan, harus menunggu turun hujan untuk proses pemadatan alami pada permukaan tanah.

“Kalau setelah musim hujan kondisinya lebih stabil, kita bisa putuskan jalur bisa dilalui atau tidak, bisa ditata atau tidak,” tandasnya.

Kejadian gempa dan longsor Minggu, 29 Agustus 2018 lalu membawa hikmah dan pelajaran penting bagi TNGR, termasuk soal pengadaan. Fasilitas tidak lagi dibangun standard, tapi lebih ke pertimbangan bangunan tahan gempa atau bencana lainnya lain seperti longsor.

Selain bangunan fisik, non fisik juga akan dievaluasi. Seperti SOP pendakian disesuaikan dengan regulasi baru, adaptasi dengan bencana. Seperti jalur evakuasi pendaki ketika terjadi bencana, akan ditentukan spot khusus di tiap jalur sehingga ketika terjadi bencana, pendaki dan para porter lebih mudah menyelamatkan diri. (ars)