TKI Ilegal Sulit Dibendung

Praya (Suara NTB) – Musibah kapal tenggelam yang menewaskan belasan TKI termasuk diantaranya TKI asal Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) kian mempertegas betapa berisikonya menjadi TKI ilegal. Meski demikian, masih banyak masyarakat di daerah ini yang justru memilih menjadi TKI ilegal. Ketimbang menjadi TKI resmi yang dari sisi keselamatan jauh lebih terjamin.

Bahkan Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disostektrans) Loteng, memperkirakan kalau jumlah TKI ilegal asal Loteng yang bekerja di luar negeri, utamanya di Malaysia, jauh lebih banyak dari yang resmi. Lalu siapa yang salah? Apakah pemerintah yang kurang maksimal memberikan penyadaran atau masyarakat yang masih belum sadar?

Iklan

Dari sisi pemerintah sendiri, sudah melakukan berbagai upaya maksimal dalam menumbuhkan kesadaran bagi masyarakat. Supaya jika ingin menjadi TKI, harus melalui jalur resmi. Biaya yang dikeluarkan untuk melakukan sosialisasi, kampanye dan lainnya sudah tidak terhitung lagi banyaknya.

“Hampir setiap tahun, sosialisasi dan penyadaran kepada masyarakat, khususnya para calon TKI supaya berangkat melalui jalur resmi, tetap dilakukan. Dan, anggaran yang dihabiskan tidaklah sedikit,” aku Kabid Ketenagakerjaan Disostektrans Loteng, H. Masrun.

Sosialisasi dan penyadaran juga dilakukan hingga lapisan masyarkat paling bawah. Melibatkan perusahaan penyalur tenaga kerja hingga aparat desa di tingkatan paling bawah. Namun segala upaya tersebut dirasa belum begitu ampuh untuk menyadarkan masyarakat agar tidak menjadi TKI ilegal. Setiap tahun, jumlah TKI ilegal terus bertambah.

“Sosialisasi yang dilakukan pemerintah selama ini sudah sangat maksimal. Dan, masyarakat sesungguhnya sudah paham dan menyadari kalau menjadi TKI ilegal itu risikonya besar,” aku Kepala Desa Mantang Kecamatan Batukliang,  Zainal Abidin, kepada Suara NTB, Kamis, 3 November 2016.

Faktor desakan ekonomi yang begitu berat, jadi alasan utama mengapa kemudian masyarakat sampai nekat menjadi TKI ilegal. Ketimbang menjadi TKI melalui jalur resmi. Karena untuk menjadi TKI resmi prosedur dan persyaratan yang harus dipenuhi terbilang berat. Di satu sisi, para calon TKI masyarakat berpendidikan rendah.

Jika ingin melalui jalur resmi, para calon TKI juga harus menunggu waktu cukup lama untuk diberangkatkan. Itu pun kalau dinyatakan memenuhi persyaratan.

“Ini yang memang terkadang membuat masyarakat enggan memilih jalur resmi ketika menjadi TKI. Karena prosedur dan persyaratan begitu rumit. Walaupun itu semua demi kebaikan TKI bersangkutan,” terangnya.

Sementara kalau berangkat sebagai TKI ilegal, prosedur tersebut tidak perlu dilalui. Proses pemberangkatan juga relatif cepat. Tidak harus menunggu sampai berbulan-bulan dulu, baru berangkat. Dengan begitu desakan ekonomi yang tadinya menghimpit, bisa segera terjawab. Meskipun tidak semuanya bisa berjalan mulus.

Di negara tujuan, TKI resmi cenderung terikat dengan berbagai aturan di perusahaan tempatnya bekerja. Masa kerja dan besaran gaji sudah dipatok. Sedangkan kalau menjadi TKI ilegal, bisa memilih sendiri perusahaan tempatnya berkerja. Besaran upah juga bisa dinegosiasikan. Tanpa harus terikat kontrak dan batas waktu. Walaupun potensi untuk tertipu juga besar.

Berangkat dari kondisi tersebut, diperlukan upaya yang lebih nyata lagi dari pemerintah untuk bisa menjawab apa yang menjadi kendala bagi masyarakat. Sehingga cenderung enggan menjadi TKI resmi. Karena dari sisi kesadaran, masyarakat sebenarnya sudah sangat sadar dan paham akan risiko sebagai TKI ilegal.

Dengan begitu, jumlah masyarakat yang berangkat sebagai TKI ilegal bisa ditekan. Selama persoalan-persoalan tersebut belum terjawab, akan sulit rasanya bisa mencegah masyarakat menjadi TKI ilegal. Karena ketika himpitan kebutuhan ekonomi sudah begitu besar, sebesar apapun risiko sebagai TKI ilegal tidak akan artinya bagi masyarakat.

“Di tengah sulitnya lapangan kerja di negara atau daerah sendiri, dengan desakan ekonomi yang semakin kuat, masyarakat pastinya akan tetap nekat menjadi TKI ilegal. Meski risikonya tidak kecil,” tandasnya. (kir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here