TKI Dompu yang Tewas di Malaysia Diduga Korban Pembunuhan

0

Dompu (Suara NTB) – Jenazah Imo (50) Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang ditemukan tewas membusuk di lahan sawit akhirnya tiba di rumah duka, tepatnya Dusun Rasanggaro Barat Desa Matua, Selasa, 20 Maret 2018 Pukul 10.30 Wita. Suasana haru menyambut kedatangan perempuan yang sudah lama bekerja di Malaysia itu. Desas desus penyebab kematiannya pun mulai terungkap, Imo diduga telah menjadi korban pembunuhan berencana.

“Memang kuat dugaan kami dibunuh karena pada saat berangkat pakaianya lengkap, pas ditemukan tinggal pakaian dalam atas itupun sudah digunting,” ungkap anak korban, Laras yang turut mendampingi pemulangan jenazah ibunya.

IKLAN

Tak lama setelah penemuan jenazah korban aparat kepolisian setempat berhasil menangkap terduga pelaku, yakni Afandi warga kelahiran Bugis. Informasinya, lanjut Laras, pembunuhan sadis itu tak dilakukannya seorang diri melainkan direncanakan bersama rekan-rekannya.

Atas kejadian tersebut ia berharap para pelaku dapat ditangkap dan diberikan hukuman yang setimpal. “Harapan kami selaku keluraga dan sudah saya sampai ke polisi saat itu kalau pelakunya tertangkap harus dihukum mati,” tegasnya.

Disinggung alasan pihaknya menolak dilakukan autopsi untuk mengetahui lebih jelas penyebab kematian ibunya. Laras mengaku, tak sanggup lantaran kondisi jenazah yang sudah berbau dan makin memprihatinkan. Karenanya atas pertimbangan dan keputusan pihak keluarga jenazah langsung dipulangkan ke kampung halaman.

Sementara biaya pemulangan sepenuhnya ditanggung pihak perusahaan tempat ibunya bekerja. “Untuk biaya ditanggung pihak perusahaan tempat kami bekerja,” ujarnya.

Kasi Perlindungan dan Pemberdayaan BP3TKI, Musleh, S. Adm., yang turun mendampingi korban saat dikonfirmasi mengaku belum mengetehui penyebab kematiannya. Pihaknya hanya menfasilitasi penjemputan jenazah untuk dipulangkan ke kampung halamannya.

Hasil pemeriksaan yang dilakukan juga diketahui Imo merupakan TKI yang berangkat secara ilegal, yang mana awalnya bekerja di Pontianak lalu diajak oleh sang anak untuk bekerja di Malaysia. “Jadi kita lihat dia perorangan dan pemerintah pun belum mendapat informasi secara detail kronologinya seperti apa. Kita hanya memfasilitasi penjemputan jenazah untuk pulang ke daerahnya, sebatas itu saja,” pungkasnya. (jun)