Titik Nol Kilometer Butuh ‘’Story Telling”

Seorang warga mengecek handphone seusai melakukan swafoto di monumen 0 kilometer Kota Mataram, Jumat, 3 September 2021. Memiliki potensi yang besar untuk jadi ikon pariwisata Kota Mataram, monumen tersebut membutuhkan story telling yang lengkap untuk menarik perhatian wisatawan.(Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Titik nol kilometer yang berada di Jalan Pejanggik segera menjadi salah satu ikon pariwisata Kota Mataram. Meskipun baru diresmikan saat perayaan HUT Kota Mataram ke-28 pada 31 Agustus lalu, potensi dari ikon pariwisata tersebut diakui cukup besar, terutama jika dikemas dengan story telling yang baik.

Ketua DPC Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kota Mataram, Zulfikar Nasution menyebut berdirinya titik nol kilometer di Kota Mataram saat ini memang tengah menjadi bahan pembicaraan. Untuk itu, pihaknya berharap Dinas Pariwisata bersama stakeholder terkait segera melakukan pengemasan untuk materi promosi yang dibutuhkan.

Iklan

“Kami di WAG (WhatsApp Group) HPI, melihat bagaimana teman-teman sangat antusias dengan keberadaan tugu atau monumen titik nol kilometer ini. Jadi kami masih menunggu juga kelanjutannya seperti apa. Karena sejauh ini so far so good,” ujar Zulfikar kepada Suara NTB, Jumat, 3 September 2021

Menurutnya, untuk penyusunan latar belakang atau sejarah titik nol kilometer sangat menentukan daya tarik monumen tersebut kedepannya. “Sepertinya ini sedang dirumuskan juga oleh stakeholder terkait. Tapi perlu diingat ini sangat esensial, jadi harus dibahas bersama-sama antara pemerintah dengan penggiat dan ahli sejarah. Juga unsur lainnya untuk sama-sama menggali cerita dan kemudian bersama-sama merumuskan literasi atau diksi yang akan dipasang untuk latar belakang monumen itu,” jelasnya.

Dengan latar belakang yang jelas, penyusunan materi promosi oleh pelaku usaha pariwisata yang ada akan menjadi lebih mudah. Selain itu, wisatawan juga akan mendapatkan pengetahuan yang komprehensif terkait monumen titik nol kilometer Kota Mataram tersebut.

“Untuk menjadikannya materi promosi memang menjadi ranahnya Badan Promosi Pariwisata, instansi terkait, dan agen perjalanan. Karena mereka yang berperan menjual produk pariwisatanya. Kami sebagai eksekutor di lapangan bersiap dengan materi yang telah disepakati nantinya,” ujar Zulfikar.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi menargetkan titik nol kilometer tersebut menjadi salah satu destinasi wisata baru di Kota Mataram. Terutama setelah sejarah titik nol kilometer tersebut rampung disusun.

“Ini bisa jadi tempat swafoto. Apalagi anak-anak motor dari luar daerah pasti mencari tugu nol kilometer,” ujarnya. Pembangunan tugu nol kilometer tersebut menghabiskan anggaran Rp150 juta yang diselesaikan dalam waktu satu bulan.

Diterangkan, nilai filosofis bangunan tersebut tidak terlepas dari ikon yang dimiliki Kota Mataram serta budaya masyarakat Sasak. Hiasan dalam lingkaran berwarna putih merupakan replika dari cukli yang menjadi kerajinan khas yang dimiliki Kota Mataram. Sementara, warna emas yang melingkar melambangkan kejayaan masyarakat Suku Sasak.

“Sebenarnya, kita ingin pasang cukli asli. Tetapi dikhawatirkan terkena panas dan hujan akan rontok. Kita buatkan saja replikanya,” jelasnya. Sebagai ikon baru di Kota Mataram, titik nol kilometer diharapkan dapat menggenjot kunjungan wisatawan di Kota Mataram. (bay)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional