Tinjau Program IFSCA, Kedubes New Zealand Kunjungi Dompu

Dompu (Suara NTB) – Pihak kedutaan besar New Zealand mengunjungi Kabupaten Dompu untuk melihat langsung program East Indonesia Innovative Farming Systems and Capability for Agribusiness Activity (IFSCA) hasil kerjasama Universita Mataram dan Massey University New Zealand di Kabupaten Dompu. Program inovasi bidang peternakan dan pertanian ini diharapkan terintegrasi ke arah lebih insentif sehingga bisa menambah pendapatan petani.

Bupati Dompu, Drs. H. Bambang M. Yasin dalam sambutannya, Kamis, 6 April 2017 mengungkapkan harapannya agar program IFSCA ini dapat diperluas dan diperpanjang waktunya. Pemerintah daerah (Pemda) siap untuk menyiapkan dana pendampingan atas perluasan serta perpanjangan program. Karena dengan seringnya kunjungan ke lokasi membuat perhatian para petani untuk mengalihkan dari pola lepas liar ke penanganan insentif.

Iklan

H. Bambang juga berharap agar kedepan program ini juga memikirkan penanganan limbah jagung menjadi pakan ternak. Limbah ini sudah cukup banyak dan bahkan hanya dibakar begitu saja oleh petani di tengah sawahnya. “Kedepan bagaimana bisa memanfaatkan limbah yang begitu banyak untuk peternakan yang intensif,” katanya.

Perwakilan Kedubes New Zealand, Mrs Tiffany Babington mengatakan, bahwa Indonesia dan New Zealand sudah sepakat kerjasama di bidang pertanian. New Zealand sendiri terkenal dengan kemajuan di bidang pertanian dan peternakannya. “Massay University yang melaksanakan kerjasama untuk wilayah NTB ini bekerjasama dalam mengembangkan kapasitas masyarakat,” katanya.

Ketua Tim IFSCA Universitas Mataram, Prof Ir M Taufik Fauzi, M.Sc, Ph.D yang dihubungi usai penerimaan oleh Bupati, mengatakan, program IFSCA di Kabupaten Dompu untuk pengembangan integrasi ternak dan jagung. Dari hasil study awal menunjukkan bahwa pemerintah daerah (Pemda) ingin mengarahkan peternakan dan pertanian terintegrasi ke arah lebih insentif. “Karena pemda sangat khawatir dengan kondisi Doro Ncanga yang kalau menurut pandangan ahli sudah terlalu banyak ternak di sana. Kalau dibiarkan, maka nanti bisa menjadi padang pasir. Itu sudah ada indikasi ke arah itu dan itu sangat berbahaya bagi kesehatan hewan,” katanya.

Ahli dari Massay University dan Unram akan membantu dalam mendeteksi dan mengobati yang terkena parasit. Nantinya akan ada bantuan laboratorium. Program ini juga bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat melalui kelompok tani binaan. Tahun 2016 lalu ada lima kelompok tani binaan dan 2017 ini ditargetkan 10 kelompok, tapi yang sudah mendaftar sudah 15 kelompok.

Selain itu, pada 2017 ini juga dilakukan penanaman lebih dari 90 ribu pohon lamtoro, pendampingan terhadap petani dan peternak secara insentif melalui produksi pakan, penanaman dan pemeliharaan tanaman pangan, pemberian pakan ternak yang baik, serta pemantauan kesehatan hewan. Juga akan diterbitkan peta status hara tanah pada wilayah pengembangan kegiatan yang sudah diteliti tim ahli, serta pembuatan percontohan biogigester untuk pemanfaatanan kotoran ternak sebagai sumber gas rumah tangga. (ula/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here