Tingkatkan Ketahanan Pangan dan Kualitas SDM Lewat Industrialisasi Peternakan

Pembangunan sub sektor peternakan merupakan bagian penting dari kebijakan pembangunan pertanian yang memiliki nilai strategis dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).  Dalam konteks pembangunan ekonomi, Pemerintah Provinsi NTB  telah mendukung program ketahanan pangan nasional di NTB. Seperti apa pengembangan sektor peternakan dan kesehatan hewan di 3 tahun pemerintahan Dr. H. Zulkieflimansyah, S.E., MSc., dan Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd., (Zul – Rohmi)?

SUB sektor peternakan merupakan salah satu program unggulan Provinsi NTB dalam kepemimpinan Gubernur Dr. H. Zulkieflimansyah, MSc., dan Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalillah, M.Pd., dan sub sektor peternakan diharapkan sebagai motor penggerak ekonomi pedesaan serta memiliki daya ungkit sektor ekonomi lainnya.

Iklan

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB drh. H. Khairul Akbar, M.Si., menjelaskan, peternakan sebagai sub sektor yang tetap menggeliat dalam suasana apapun terlebih lagi dalam suasana pandemi Covid-19 yang tengah melanda hampir di sebagian besar negara di dunia, termasuk di Indonesia.  Namun, ujarnya, patut disyukuri karena produk peternakan khusus komoditas sapi dan unggas adalah kontributor terbesar dalam penyediaan pangan asal ternak dan sekaligus menjamin kebutuhan protein asal hewan serta menjadi andalan dalam meningkatkan status ekonomi bagi masyarakat NTB.

Terkait hal ini, Pemerintah Provinsi NTB, khususnya Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam RPJMD Provinsi NTB 2019-2023, menyebut pengembangan sub sektor peternakan, diarahkan pengembangannya menuju industrialisasi dengan dua program utama adalah pengembangan kampung unggas dan industrialisasi peternakan/ pakan ternak artinya keberpihakan pemerintah akan berupaya memberikan dukungan pengembangan peternakan dari hulu hingga ke hilir.

Kegiatan hulunya, baik unggas maupun ruminansia akan diklasifikasi bagaimana meningkatkan produksi daging dan telur yang tentunya dengan mendorong potensi dan fasilitas dalam rangka peningkatan produktivitas. Sementara kegiatan hilirnya, diarahkan produksi hasil peternakan dapat memberikan nilai ekonomi melalui penganekaragaman pangan olahan asal hewan.

Dalam 3 tahun terakhir ini, ungkapnya, perkembangan subsektor peternakan masih cukup menjanjikan, walaupun kita ketahui bahwa sejak 3 tahun ini di masa kepemimpinan Zul- Rohmi, begitu banyak persoalan dihadapi, seperti bencana gempa dan kemudian dilanjutkan dengan penyebaran kasus penyakit Covid 19, sehingga semua anggaran pemerintah difokuskan pada penanganan pasca gempa dan pemulihan kesehatan masyarakat.

Semua sektor mengalami turbulensi akibat kejadian tersebut, namun NTB perlu berbangga bahwa sub sektor peternakan mampu bertahan dan memberi kontribusi terhadap daya tahan ekonomi masyarakat. Bila kita lihat data pertumbuhan PDRB di Sub Sektor Peternakan Tahun 2018- 2020, Tahun 2018 PDRB Peternakan berdasarkan harga konstan sebesar Rp3.392 miliar meningkat menjadi sebesar Rp3.514 miliar atau meningkat 4% per tahun.

Sedangkan bila dilihat Nilai Tukar Petani Peternakan (NTP) dari tahun ke tahun, tambahnya, secara umum NTB masih bisa berbangga, karena NTP khusus sub sektor peternakan angkanya di atas 100. Artinya bahwa peningkatan daya beli, karena harga produksi naik lebih besar dari kenaikan harga konsumsinya, atau pendapatan petani naik lebih besar ketimbang biaya pengeluarannya, sehingga kesejahteraan petani juga meningkat. (*)

 

 

 

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional