Tingkatkan Kecintaan pada NTB dengan Jaga Lingkungan

Ilustrasi pohon yang baru ditanam (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Momen Hari Ulang Tahun (HUT) ke 60 tanggal 17 Desember 2018 ini mesti jadi ajang evaluasi bagi masyarakat di daerah ini untuk berubah. Selain itu, bagaimana masyarakat di daerah ini mencintai lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak hutan dan menjaga sanitasi lingkungan agar tetap bersih.

‘’Di usia NTB ke 60, saya mengimbau pada seluruh masyarakat NTB, mari kita tingkatkan kecintaan pada NTB dengan cara menjaga lingkungan NTB. Bagaimana supaya lingkungan kita betul-betul terjaga, sungai-sungai bersih, daerah semua bersih, daerah semua hijau dan sanitasi juga baik semuanya,’’ ujar Wakil Gubernur NTB Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, MPd., saat dikonfirmasi Suara NTB di Kantor Gubernur NTB, Jumat, 14 Desember 2018.

Iklan

Selain itu, kata wagub, masyarakat di NTB meningkatkan kecintaan pada kesehatan. Dalam hal ini, semua pihak menjaga kesehatan, baik dari kesehatan lingkungan sekitar dan sekolah, sehingga anak-anak bisa mendapatkan pendidikan yang baik di masa mendatang

Untuk itu, dalam mengeksekusi program, wagub mengingatkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) melibatkan banyak pihak, khususnya masyarakat yang menjadi objek. Adanya pelibatan banyak pihak ini, ujarnya, efektivitas dan efisiensi program diklaim bisa berjalan dengan baik.

Sebagai contoh, ujarnya, wagub menginginkan di setiap desa itu ada bank sampah, sanitasi masyarakat betul-betul diperhatikan dan masyarakat tidak membuang sampah dan hajat sembarangan. Dalam melakukan itu semua, perlu dilakukan sosialisasi ke masyarakat, sehingga kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan tetap terjaga.

Tidak hanya itu, ujarnya, hutan-hutan di NTB tidak boleh gundul. Jika sekarang ini ada penggundulan hutan, harus segera ditanami, sehingga hutan tetap lestari. ‘’Kalau sudah ditanam dijaga, sampai setelah ditanam dimakan ternak atau dirusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,’’ ujarnya mengingatkan.

Hal lain yang mesti diperhatikan, tambahnya, adalah kesehatan masyarakat. Dalam hal ini ibu-ibu di NTB harus diberikan pemahaman mengenai pentingnya gizi untuk pertumbuhan dan masa depan anaknya.

Menurutnya, dalam memberikan gizi pada tidak harus mahal. Jika ibu-ibu sudah paham tentang gizi lengkap, seperti di setiap makanan yang disajikan pada anak-anaknya, yakni harus ada sayur, buah, protein, mineral, karbohidrat , maka pertumbuhan gizi anak-anaknya akan lebih baik.

Meski demikian, ujarnya, dalam melaksanakan semua itu tidak bisa dilakukan secara serta merta. Dalam arti, orang yang menyuruh melakukan mencintai lingkungan, jika tidak memberikan contoh, maka itu hanya percuma.

‘’Kita mulai dari diri kita. Termasuk di pemprov kita harus mulai dari pemprov. Bagaimana kita mau suruh orang, kalau dari pemprov tidak mulai. Karena ini bicara kesadaran. Percuma fasilitas dan segala macam, kalau kita tidak sadar dengan tentang bagaimana menjaga lingkungan dan memberikan gizi pada anak-anaknya, kalau  tidak dimulai dari yang memberi contoh,’’ ujarnya.

Pada bagian lain, wagub menegaskan, jika  institusi pendidikan menjadi institusi terdepan dalam menjadikan lingkungan yang bersih dan aman dari bencana. Wagub mencontohkan, sekolah bisa mengajak anak-anak mencintai lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya. Termasuk mengajak anggota keluarga menjadikan sampah, baik plastik, kertas dan kaleng bisa menjadi uang. Jika selama ini sampah menjadi bencana, ujarnya, tapi kalau diolah, sampah bisa menjadi berkah dengan cara memilahnya dan menjualnya di bank sampah.

Menurutnya, segala sesuatu yang dimulai dari pendidikan memiliki dampak jangka panjang pada anak-anak dan lingkungan. Tapi kalau hanya program itu sifatnya sporadis atau hanya sekadarnya saja. Misalnya, Lomba Sekolah Sehat (LSS) yang digelar setiap tahun.  Wagub mengharapkan LSS tidak sampai hanya seremonial belaka. Pada saat dinilai saja sekolah dibersihkan. Padahal, kalau membersihkan sekolah menjadi prioritas sekolah akan membekas pada anak-anak dan bisa menerapkan di lingkungannya. (ham)