Tinggi, Serapan Kredit Pelaku IKM

Hj. Nuryanti.(Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pertumbuhan kredit di NTB tumbuh 10 kali lipat dibandingkan pertumbuhan kredit nasional di semester I tahun 2020, meski pandemi Covid-19. Tingginya kredit di lembaga keuangan ini salah satunya adalah permintaan para pelaku Industri Kecil Menengah atau Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). “IKM-IKM kami banyak mendapat kontrak dari dinas. Kalau IKM ini sudah pegang kontrak, langsung ngabil DP di Bank NTB Syariah,” kata Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Hj. Nuryanti, SE, ME membenarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Dinas Perindustrian memiliki perjanjian kerjasama dengan Bank NTB Syariah untuk mendukung eksistensi para pelaku IKM di tengah pandemi Covid-19 ini. IKM-IKM yang membutuhkan dukungan pendanaan, akan direkomendasikan untuk mendapatkan penguatan modal. Hj. Nuryanti mengatakan. Salah satu stimulus ekonomi yang dibuat oleh pemerintah Provinsi NTB ditengah pandemi Covid-19 adalah melalui pola mendorong peran IKM memenuhi kebutuhan untuk program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Gemilang. Paket JPS Gemilang diantaranya adalah sembako, hasil-hasil kerajinan, produk pangan olahan.

Iklan

Dampaknya, IKM bisa berproduksi dengan adanya kepastian pasar. Kegiatan produksi itulah yang mendorong tingginya permintaan penambahan modal IKM. Kemudian pola yang kedua, adanya kebijakan kepala daerah, yaitu Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah mendorong perbankan memberikan kredit kepada para pelaku usaha dengan tenor lima tahun. Keringanannya, setahun pertama pinjaman berjalan, IKM diberikan kelonggaran tidak membayar karena Covid-19.

“Tahun kedua baru dikembalikan. Ini hanya di NTB, dan program ini cukup mendorong tingginya permintaan kredit,” jelas kepala dinas. Kepada Suara NTB di ruang kerjanya, Jumat, 4 September 2020, Nuryanti menyebutkan, saat ini program industrialisasi juga diperkuat pondasinya oleh pemerintah daerah. NTB mengembangkan kendaraan-kendaraan listrik. Yaitu mobil listrik, motor listrik, dan sepeda listrik. Jasa-jasa yang terkait dari kegiatan produksi kendaraan listrik ini bertumbuh di mana-mana. Lalu turut serta melakukan produksi. Program kendaraan listrik ini juga yang mendorong permintaan kredit mengalami kenaikan.

“Saya telah melakukan kunjungan ke hampir seluruh kabupaten/kota di NTB. kegiatan hilirisasi dan industrialisasi itu bergerak. Makanya saya meyakini modal yang diminta oleh IKM di perbankan itu benar-benar dimanfaatkan untuk kebutuhan produksinya,” demikian Nuryanti. Sebelumnya, OJK mengumumkan tingginya pertumbuhan kredit di NTB mencapai 20,74 persen pada semester I tahun ini.  Kredit disalurkan oleh 34 Bank Umum dan Bank Umum Syariah dan 32 Bank Perkreditan Rakyat (BPS) dan BPR Syariah.

Dengan total penyaluran Rp50,16 T, atau jauh melampaui pertumbuhan kredit nasional yang meningkat sebesar 1,58%. Provinsi Bali hanya tumbuh 2,49 persen dan Provinsi NTT tumbuh 7,32 persen. Lima sektor yang mengalami pertumbuhan kredit cukup menggembirakan di atas 20 persen adalah Pertanian, Pertambangan, Akomodasi Makan dan Minum, Industri Pengolahan, Komunikasi Pergudangan dan Transportasi. (bul)