Tinggi Pengajuan Rapid Antigen di Mataram

H. Lalu Herman Mahaputra.(Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Minat masyarakat di Kota Mataram untuk melakukan rapid test antigen terbilang cukup tinggi. Untuk layanan yang dibuka di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Mataram saja, puluhan orang per hari mengajukan untuk melaksanakan skrining awal virus corona (Covid-19) tersebut.

“Hari ini saja hampir 50 orang yang mengajukan (untuk rapid test antigen), karena baru juga informasinya. Mungkin besok lebih banyak lagi,” ujar Direktur RSUD Kota Mataram, dr. Lalu Herman Mahaputra saat dikonfirmasi, Senin, 21 Desember 2020.

Diterangkan Dokter Jack, sapaan akrabnya, banyaknya masyarakat yang mengajukan rapid test antigen tersebut salah satunya menandakan kebutuhan masyarakat untuk keluar daerah masih cukup tinggi. Mengingat hasil rapid test antigen menjadi salah satu syarat bagi masyarakat yang ingin melaksanakan perjalanan lintas pulau.

Untuk mendapat pelayanan rapid test antigen sendiri disebut Dokter Jack tidak memiliki syarat khusus. Namun untuk prosesnya Pemkot Mataram tidak akan menggratiskan biaya pemeriksaan.

“Yang penting siapa yang butuh silakan dengan berbayar. Yang ini tidak boleh digratiskan, karena ini bukan untuk kebutuhan medis. Rata-rata untuk perjalanan dinas atau berpergian,” jelasnya. Untuk satu kali rapid test antigen dapat dikenakan biaya alat hingga Rp275 ribu.

Ketersediaan alat rapid test di RSUD Kota Mataram disebutnya masih cukup. “Berapapun warga yang datang, kita sudah siapkan,” ujar Dokter Jack. Penggunaannya akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang mengajukan untuk rapid test tersebut.

“Kalau kebutuhannya untuk medis itu tidak berbayar, tapi kan sekarang akan lucu kalau mau berpergian senang-senang, terus mau digratiskan. Tidak boleh begitu, karena alatnya juga kita beli dengan uang negara,” tandas Dokter Jack.

Sebagai informasi, sampai dengan Minggu (20/12) Satgas Covid-19 Kota Mataram mencatat adanya 4 penambahan kasus baru di Mataram. Total kasus Covid-19 sampai dengan Senin, 21 Desember 2020 mencapai 1.365 kasus dengan rincian 1.223 orang dinyatakan sembuh, 49 orang masih menjalani isolasi, dan 93 orang meninggal dunia. (bay)