Tinggi, Kasus Kekerasaan terhadap Anak di Mataram

Mataram (Suara NTB) – Kasus kekerasan terhadap anak di Kota Mataram dinilai cukup tinggi. Data tahun 2017 terdapat 115 kasus, dan dikhawatirkan kasusnya terus bertambah pada tahun 2018 jika tidak dilakukan langkah-langkah efektif untuk mencegahnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Mataram, Dra. Hj. Dewi Mardiana Ariany menjelaskan, kekerasaan terhadap anak baik berbentuk fisik maupun seksual tidak terlepas perilaku orangtua kepada anak – anaknya. Sebab, pelaku kekerasaan tidak lain merupakan orang – orang terdekat seperti ayah, paman, kakek, saudara, tetangga terdekat dan teman.

Iklan

Dia mencatat kekerasaan terhadap anak yang terjadi mencapai 115 kasus. Ini didominasi oleh kekerasaan fisik dan sebagian lainnya pelecehan seksual. “Data terakhir di kami itu 115 kasus,” sebut Dewi.

Anak yang menjadi korban kekerasaan dilakukan pendampingan di Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak. Kalau tidak ada proses perdamaian diserahkan ke Unit PPA Polres Mataram.

Tak jarang, kasus kekerasaan atau pelecehan seksual dibawa langsung ke aparat penegak hukum. Menurut Dewi, hal itu tidak jadi masalah. Karena, Unit PPA Polres Mataram berjejaring dengan DP3A Kota Mataram. “Tidak masalah kasus kekerasaan terhadap anak itu masuk ke ranah hukum. Artinya, agar masyarakat menyadari itu persoalan serius,” timpalnya.

Kebanyakan kekerasaan terhadap anak maupun perempuan terjadi seperti KDRT, pemukulan, bahkan kekerasaan sifatnya psikis. Secara psikologi korban mengalami gangguan psikis akibat stigma tersebut,membuat anak terkucil dan memilih menyendiri. “Itu sebabnya kadang anak sering diam atau menyendiri,” katanya.

Dugaan pelecehan seksual di Lingkungan Nyangget Kelurahan Selagalas diakui, belum menerima laporan. Proses assessment pun tidak bisa dilakukan dengan krasak-krusuk. Menurutnya, korban harus melapor kemudian baru dilakukan pendampingan. “Assessment tidak saja korban dan pelaku. Tapi orangtuanya juga perlu diassessment,” tambahnya.

Korban pelecehan seksual jika tak ditangani cepat kemungkinan korban bisa menjadi pelaku. Oleh karena itu, peran orangtua dalam keluarga sangat penting. Karena, keluarga menjadi madrasah pertama bagi anak. (cem)