Tinggi, Animo Masyarakat Bekerja ke Luar Negeri

H. Lalu Didiek Yuliadi. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Jumlah angkatan kerja yang ingin mengadu nasib di luar negeri membludak. Ditengah pandemi Covid-19 dan isolasi diri sejumlah negara yang menjadi tujuan bekerja. Hal ini dikemukakan Ketua Organisasi Pengusaha Tenaga Kerja Indonesia atau Aspataki Provinsi NTB, H. Lalu Didiek Yuliadi.

Seperti diketahui, saat ini ada 54 negara yang tidak diperbolehkan keluar masuk warga negaranya oleh pemerintah Malaysia untuk memutus mata rantai penularan wabah corona. Dengan keputusan negara tujuan utama penempatan pekerja Indonesia ini, kata mantan pejabat Bank Indonesia ini kepada Suara NTB di Mataram, Rabu, 9 September 2020, apapun aturan yang dibuat oleh pemerintah Indonesia, tentu tidak berarti apa – apa bila pintu Malaysia tertutup. “Tetap kita ya bersabar saja sekarang,” ujarnya.

Iklan

Aspataki turut mengikuti rapat koordinasi dengan Dinas Nakertrans Provinsi NTB beserta semua asosiasi, pemerhati dan Dinas Tenaga Kerja kabupaten/kota se NTB. ‘’Ya kita mendengarkan saja. Tetap kesimpulannya tetap saja kita tidak bisa mengirim tenaga kerja keluar negeri, walaupun pemerintah di dalam negeri mengizinkan. Kita mau bilang apa,” katanya.

Mekanisme pengiriman tenaga kerja ke luar negeri sudah terintegrasi dalam satu sistem. Tidak bisa masing-masing daerah memiliki kebijakan. Membuka layanan pengiriman bekerja ke luar negeri. Ditengah terjepit kondisi seperti ini, L. Didiek mengkhawatirkan  potensi berangkat ke luar negeri secara ilegal melalui jalur-jalur yang tidak direkomendasikan pemerintah. dengan potensi risiko cukup tinggi.

Di media-media dan media sosial, banyak didapat informasi tentang penangkapan dan proses terhadap tenaga-tenaga kerja yang ingin berangkat bekerja ke luar negeri. Tidak sedikit juga dari NTB. Demikian juga informasi tentang kepulangan atau pekerja yang cuti namun tertahan karena pemerintah menutup pintu keluar masuk masing-masing negara.

Kondisi ini turut membingungkan para pelaku usaha di bidang jasa pengiriman tenaga kerja ke luar negeri. Rekrutmen calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) sementara ini belum memungkinkan dilakukan. Jika rekrutmen dibuka, L. Didiek mengatakan jumlahnya sangat banyak yang ingin bekerja di luar negeri. Tetap saja tidak diproses. (bul)