Tinggalkan Sistem Konvensional

H. M. Kemal Islam. (Suara NTB/cem)

PEMKOT Mataram mendukung sepenuhnya Program Zero Waste. Berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi sampah plastik. Namun, kesadaran masyarakat memilah sampah masih menjadi tantangan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, H. M. Kemal Islam menjelaskan, program zero waste sebenarnya bukan saja program Provinsi NTB, melainkan program nasional yang menargetkan bebas sampah tahun 2025 mendatang. Kebijakan ini diadopsi oleh masing – masing daerah untuk melakukan hal serupa.

Iklan

Khusus Kota Mataram melakukan upaya pengelolaan sampah tidak lagi dengan sistem konvensional yakni dengan sistem kumpul, angkut dan buang. Pihaknya mengembangkan bagaimana memanfaatkan sampah menjadi barang bernilai, sehingga menghasilkan sampah bernilai ekonomis. ‘’Sistem konvensional tidak lagi kita lakukan sepenuhnya,’’ kata Kemal dikonfirmasi akhir pekan kemarin.

Intervensi lainnya adalah mensosialisasikan amanat Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2019 tentang pengolahan sampah kepada kepala lingkungan,lurah dan camat se – Kota Mataram. Kemal menegaskan, jika amanat perda itu dilaksanakan dengan baik maka Kota Mataram khususnya dan NTB pada umumnya bisa mewujudkan program zero waste.

Bagaimana pun juga sambungnya, salah satu amanatnya adalah pemilihan sampah organik dan anorganik yang kemudian dimanfaatkan energi terbarukan. Untuk pemilihan sampah akan menghidupkan kembali bank sampah di lingkungan. Dengan cara melakukan pelatihan kepada kader terutama ibu rumah tangga untuk pemilihan sampah.

‘’Di sekolah – sekolah dan perguruan tinggi sudah memulai membentuk bank sampah dalam rangka pemilihan sampah. Bahkan, UNU meresmikan bank sampah,’’ jelasnya.

Pada akhirnya nanti pemerintah akan membeli sampah dari sekolah – sekolah. Murid membawa sampah rumah tangga dan hasilnya akan masuk ke rekening. Kemal memahami tidak mudah mewujudkan program zero waste. Tantangan terberat yang dihadapi adalah mengubah perilaku masyarakat. Konteksnya adalah masyarakat belum mau diajak bersama – sama melakukan pemilihan sampah. Masyarakat lebih memilih cara praktis dengan membuang sampah di saluran. Akan tetapi, pertemuan bersama kepala lingkungan di tiga kecamatan memunculkan ide untuk penyuluhan kepada kelompok masyarakat calon pengelola sampah rumah tangga. Dengan harapan permasalahan sampah bisa di atasi dengan baik. (cem)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional