Tinggal di Tenda Pengungsian, Seorang Balita Idap Penyakit Aneh

PENYAKIT ANEH – M. Rudi Firmansyah, balita asal dusun Ranjok Utara desa Dopang, Lobar, menderita penyakit aneh tinggal di tenda pengungsian, Rabu,  21 November 2018. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Rudi Firmansyah (2,5 tahun), balita asal dusun Ranjok Utara Desa Dopang kecamatan Gunungsari mengidap penyakit aneh. Pada bagian pelipis kepalanya mengalami benjol dan bola matanya keluar. Kondisi balita malang ini sangat memprihatinkan, lantaran sekian tahun tak ditangani secara medis akibat tak punya BPJS.

Orang tuanya tak mampu membiayai pengobatan karena kondisi keluarga miskin. Kondisi Rudi semakin tak terurus menyusul bencana gempa beberapa bulan lalu meluluhlantakkan gubuknya. Rudi bersama ibu dan ayah serta kakaknya pun tinggal di tenda pengungsian. Tenda pengungsiannya pun memprihatinkan, karena terbuat dari terpal dan spandek hasil berhutang.

Iklan

Ditemui di tenda pengungsian yang dibuat di bekas reruntuhan rumahnya, Nuraini, ibu dari balita malang itu menuturkan jika anaknya sudah mengalami kelainan semenjak lahir. Ketika lahir, anaknya memiliki berat normal 3.5 kilogram. Namun kelainan pada bagian mata dan pelipisnya sudah mulai terlihat ketika lahir. Awalnya, ketika di kandungan Nuraini tak pernah merasa aneh. Karena kondisinya normal-normal saja. “Tapi pas lahir kami melihat ada kelainan itu, kami tidak pernah obati karena anak kami tidak punya BPJS,” keluhnya.

Selama hampir 2,5 tahun mengidap penyakit itu, ia tidak pernah berani membawa anaknya ke Puskesmas sebab khawatir ditarik biaya karena tak punya BPJS. Ia pun terpaksa merawat anaknya dengan seadanya. Tanpa obat dan penanganan dari pihak medis.  Ia pun sudah berusaha mengusulkan ke desa agar anaknya dibuatkan BPJS, namun pihak desa beralasan harus menunggu anaknya besar.

 Lambat laun benjolan pelipis anaknya semakin membesar, bahkan bola matanya keluar dan terlihat berdarah pada bagian selaput matanya. Ia sendiri hal bisa berbuat banyak, karena tak ada uang untuk membiayai. Suaminya hanya bekerja sebagai buruh penggergajian kayu, itu pun dalam sehari memperoleh upah Rp80-100 ribu hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari. Suaminya menjadi tukang kayu hingga ke KLU. Belum lagi untuk biaya anaknya sekolah saat ini kelas 4 SD. Kondisinya semakin parah ketika rumahnya hancur akibat gempa beberapa bulan lalu. “Rumah kami hancur, kami tinggal ditenda,”akunya.

Sementara itu pihak pemerintah desa sudah berupaya membawa anak tersebut ke Puskesmas namun pihak keluarga belum sempat, sebab orang tuanya juga terdampak gempa. “Ibu Bupati pernah berencana kunjungi balita ini namun belum datang,” jelasnya. Balita ini sudah dibawa ke Puskesmas, namun pihak Puskesmas menyarankan dibawa ke RS provinsi namun pihak keluarga tidak mampu karena terkendala biaya menunggu pasien di rumah sakit.

Sejauh ini pihak keluarga balita hanya dibantu oleh yayasan, sedangkan dari Pemda belum pernah ada bantuan. Saat ini dari pihak Yayasan Charity tengah membantu mengurus untuk pembuatan BPJS. Ia berharap ada perhatian dari Pemda. (her)