Tinggal di Gubuk Reot, Papuq Aminah Bertahan Hidup dari Hasil Jual Kayu Bakar

Giri Menang (Suara NTB) – Gerung sebagai ibukota Kabupaten Lombok Barat (Lobar) merupakan salah satu daerah yang menjadi kantong kemiskinan di Lobar. Sebagai ibukota seharusnya, Kota Gerung terbebas dari persoalan-persoalan sosial ini. Dari 12 indikator kemiskinan yang masih banyak ditemukan di kota ini yakni rumah kumuh. Rumah kumuh ini banyak “menghiasi” pemukiman warga di jantung Kota Gerung. Lebih-lebih di pinggiran kota banyak “berjejeran” rumah tak layak huni.

Seperti keluarga Papuq Aminah, satu  dari sekian banyak potret keluarga miskin di pinggiran Kota Gerung. Keluarga miskin berdomisili di Dusun Lintak Buwur Desa Babussalam Gerung ini mendiami rumah tak layak huni. Ia hidup bersama suaminya, Papuq Cembut dan tiga orang anaknya. Selama hampir setengah abad usianya dihabiskan dengan tinggal di gubuk reotnya.

Iklan

Disambangi, Minggu, 12 Februari 2017, Papuq Aminah tengah duduk di teras gubuknya bersama dua cucunya. Wanita paruh senja ini baru saja selesai membelah batang kayu bakar yang diperolehnya dari Gunung Sasak. Tampak keringat masih membasahi pakaian yang ia kenakan. Ia dan suaminya sehari-hari pergi mencari kayu untuk menyambung hidup.

Gubuk reot yang ditinggali ibu tua ini berukuran tidak terlalu besar. Rumah tua itu ditinggali berpuluh-puluh tahun, semenjak ia menikah dengan suaminya puluhan tahun silam. Seingatnya, ketika itu sudah zaman kemerdekaan, namun situasi keamanan belum aman.

Awalnya ia tinggal di gubuk roet, berdinding bedek dan berlantai tanah. Kondisinya sangat tidak layak sebagai tempat tinggal. Atas belas kasihan warga sekitar, akhirnya ia pun disumbang batu bata, kayu dan genteng untuk membangun gubuk yang lebih layak. Akhirnya, atas bantuan warga sekitar ia pun membangun rumah seadanya.

Gubuk yang dibangun itu sedikit lebih besar, mengingat jumlah anak-anaknya banyak. Akan tetapi kondisi gubuk itu tetap saja kurang layak, sebab masih berdinding bedek, berlantai semen dan atapnya dari genteng. Namun di mana-mana terlihat sudah rapuh dimakan usia.

Di gubuk itu, ia tinggal bertiga bersama anaknya. Lima anaknya sudah merantau ke luar daerah untuk mencari hidup. Sebab berharap di daerah asal tidak ada pekerjaan. Untung pula ada kiriman uang dari anaknya untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Ia membantu suaminya mencari nafkah dengan bekerja serabutan. Ketika masih kuat, ia bersama istrinya menjadi buruh tani. Namun seiring waktu kini kondisinya menurun, sehingga hanya mengandalkan mata pencaharian kayu bakar.

Ia menjual kayu bakar dengan harga bervariasi, tergantung ukuran kayu tersebut. Harga seikat dijual dengan Rp 3-5 ribu.  Dalam sehari, ia hanya memperoleh Rp 5 ribu- 10 ribu dari menjual kayu bakar. Itupun habis untuk membeli beras. Selain itu, ia juga bergantung dari lahan HKM di Gunung Sasak. Ia mengaku memperoleh jatah 4 are untuk berkebun. Ia berharap agar pemda memperhatikan kaum tak berada seperti dia, sebab bagaimanapun ia sangat kesulitan memperoleh penghasilan hidup. “Masak selama-lamanya kita hidup begini, dihimpit kemiskinan begini,” keluhnya.

Dikonfirmasi terkait kondisi kemiskinan di wilayahnya, Camat Gerung Baiq Mustika Dwiadni tidak mengingkarinya. Menurutnya, Gerung merupakan salah satu kantong kemiskinan, sehingga di Gerung juga termasuk banyak rumah kumuh.

“Gerung kan termasuk kantong kemiskinan, rumah kumuhnya banyak ada mencapai ribuan,” jelasnya. Diakui, penanganan rumah kumuhi ni sendiri bertahap. Tiap tahun pasti ada usulan untuk penanganan rumah kumuh sampai ratusan unit.

Rumah kumuh tersebar di 11 desa dan 3 kelurahan di Gerung. Termasuk terkonsentrasi di Kelurahan Gerung Selatan, Dasan Geres dan Desa Babussalam, Taman Ayu serta Kebon Ayu. Tahun ini saja, alokasi pengentasan rumah kumuh Kota Gerung memperoleh jatah 300 unit. Penanganan ini dinilai masih belum maksimal, sebab jumlah rumah kumuh dengan kemampuan penanganan tak sebanding. (her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here