Tina Diduga Diserang Penyakit Kaki Gajah

Dompu (Suara NTB) – Tina Aisah Agustini (11), warga Dusun Selaparang, Desa Matua, Kabupaten Dompu, masih harus menunggu hasil pengujian laboraturium atas penyakit yang dideritanya enam tahun terakhir. Sementara ini warga kampung dan dokter yang datang memeriksanya menduga penyakit yang dialami yakni penyakit kaki gajah atau dalam bahasa kedokteran disebut Filariasis.

Jika positif menderita kaki gajah atas sampel darah dari semua anggota keluarganya, Tina, panggilan akrab bocah kelas 6 SD ini harus menjalani perawatan intensif. Dipastikan semua warga Selaparang dengan radius sekitar satu kilo dari rumah Tina, akan menjalani pemeriksaan darah per individu. Karena penyakit ini merupakan penyakit langka menular melalui gigitan nyamuk. “Kalau memang positif hasilnya, semua warga akan diperiksa satu per satu, dan waktu pemeriksaannya nanti akan dimulai pada jam 11 malam, saat keluarga kita sudah tidur,” ungkap Kepala Dusun Selaparang Timur, H. Bunyamin yang ditemui Suara NTB di kediamanya, Senin, 7 November 2016 malam.

Iklan

Ia mengatakan, upaya merujuk Tina ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dompu, sudah dilakukan pihaknya. Tim dokter rumah sakit menyarankan agar segera dilakukan operasi. Hanya saja karena persoalan  ekonomi keluarga, Tina terpaksa menjalani perawatan seadanya.

Bahkan kata Bunyamin, setelah melihat kondisi Tina yang kian hari semakin mengkhawatirkan, pihaknya kemudian meminta pemerintah Desa membuatkan surat izin penggalangan dana masyarakat sekitar. “Ya mungkin satu rumah seribu rupiah atau dua ribu untuk tambahan biaya operasinya, karena kita tahu sendiri bagaimana kondisi ekonomi keluarga itu,” jelasnya.

Perawatan yang sudah diberikan tim dokter RSUD sejauh ini, baru sebatas pemeriksaan luar dan pemberian obat pendiagnosa penyakit. Terakhir dilakukan pengambilan sampel darah bersama tim gabungan dari Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Dompu. “Kalau memang positif nanti, baru akan kita galang dana, dan semoga saja ada bantuan yang diberikan pemerintah,” harapnya.

  Debat Publik Pilkada Lombok Timur, 400 Personel Kepolisian Diterjunkan

Sementara itu orang tua Tina, Agus Salim (34) yang dikonfirmasi terkait latar belakangan persoalan ini menuturkan, pembengkakan kaki yang dialami Tina bermula saat kakinya terkilir ketika bermain bersama teman sebayanya. Tak berselang lama dari kejadian tersebut kemudian terjadi pembekakan yang semakin hari semakin membesar. Itupun baru disadari keluarga beberapa tahun terakhir ini.

Agus yang profesi sehari-harinya sebagai pemulung dan terkadang menjadi buruh bangunan itu mengungkapkan, untuk malakukan operasi seperti yang disarankan tim dokter, sangatlah tidak mungkin jika dilihat dari hasil kerja Rp 30.000 – Rp 40.000 per harinya. Bahkan untuk kebutuhan listrik rumah tanggapun tak dimilikinya saat ini. “Kalau dioperasi, saya sama sekali tidak mampu membiayai. Untuk makan saja kami kesusahan,”ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit (P2) Rahmat, SKM yang dikonfirmasi perihal kasus ini menjelaskan, untuk memastikan penyakit Tina, pihaknya harus melakukan pemeriksaan darah di Laboraturium. Saat ini sampel darah yang diambil telah dikirim ke rumah sakit Surabaya untuk proses pemeriksaan. “Kami ambil sampel darahnya itu di atas jam 10 malam, karena memang di situlah baru kita dapatkan beraktivitasnya cacing itu,” jelasnya saat ditemui di kantornya, Selasa (8/11).

Filariasis atau kaki gajah kata dia, gejala menonjol yang ditunjukkan terutama pembengkakan kaki secara tidak wajar, baik terjadi pada salah satu kaki maupun keduanya. Selain penyakit kaki gajah, bisa saja kasus yang dialami Tina karena faktor lain seperti gangguan pada hati. “Kalau memang positif hasilnya, baru kita akan tindak dan penularan penyakit ini kan melalui nyamuk. Jadi bisa saja nanti diradius tertentu kita lakukan pemeriksaan darah dan pembasmian nyamuk. Pada intinya, sampai saat ini kami masih menunggu hasil lab tersebut,” pungkasnya. (jun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here