Timbulkan Masalah Baru, Pemanfaatan Osamtu Masih Dikaji

Mataram (Suara NTB) – Anggaran pembangunan Osamtu di wilayah Bertais Kecamatan Sandubaya sepertinya sia – sia. Alat yang disiapkan untuk menangani sampah dengan pola dibakar justru tak dioptimalkan. Untuk membangun osamtu tersebut, telah dianggarkan sekitar Rp 200 juta.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, Irwan Rahadi. Osamtu masih meninggalkan masalah baru dari sisa pembakaran. Asap dari proses pembakaran menimbulkan polusi. Sehingga, ini perlu dikaji kembali sambil melihat regulasi. “Belum dioptimalkan melihat regulasi yang tepat,” ujarnya.

Iklan

Irwan Rahadi mengatakan, osamtu ini masih dilakukan pengkajian kembali. Sebab, beberapa persoalan akan muncul jika penanganan sampah dilakukan dengan cara dibakar. Masalah muncul yakni polusi. Sebab, belum ada regulasi mengatur. Kedua, keterbatasan lahan dimiliki pemerintah jika osamtu dipilih sebagai alternatif penanganan sampah di Mataram.

“Ini sedang kaji sehingga belum dioptimakan sambil menunggu regulasi,” kata Irwan pekan kemarin.

Penanganan sampah secara reguler tetap dengan pola angkut buang. Disamping itu, Pemkot Mataram menggunakan gerobak untuk menutupi jika sewaktu – waktu kendaraan roda tiga di masing – masing lingkungan tidak bisa menjangkau sampah di dalam gang. Itu kata dia, tetap dimanfaatkan karena bagian dari operasional.

“Perihal petugas swadaya masyarakat. Kita berikan dalam bentuk fasilitas,” terangnya.

Selain memaksimalkan gerobak sampah dan kendaraan roda tiga. Dinas Lingkungan Hidup akan mencoba menerapkan pola pewadahan seperti plastik dan karung. Fasilitas diberikan ke masing – masing kepala keluarga ini diharapkan dimanfaatkan masyarakat. Tidak seperti sekarang ini kata mantan Camat Selaparang ini, masyarakat membuang sampah dan berserakan. Itu artinya, butuh waktu untuk mengangkut.  “Jika terwadahi dengan baik akan memudahkan petugas pengangkut sampah,” katanya.

Dikatakan, walaupun pewadahan sudah dicoba, bukan berarti tidak ada hambatan. Hambatan justru timbul ketika para pemulung bekerja mencari nafkah di TPS. Mereka membongkar sampah yang bisa diuangkan. “Jangan kira dengan pewadahan itu tidak ada sampah. Justru hambatan akan muncul,” akunya.

Melihat volume sampah diprediksi akan bertambah, apakah pola angkut buang masih efektif digunakan? Dikatakan, pola angkut buang tetap dilaksanakan di samping itu untuk prospek peningkatan pemberdayaan sampah. Meskipun, tidak semua sampah bisa terangkut, paling tidak mengurai jumlah penumpukan sampah.

Dengan volume sampah 1.444 meter kubik setiap hari. Dengan pola angkut buang hanya mengatasi 800 – 900 meter kubik sampah. Sisanya, dimanfaatkan oleh pemulung. Selain itu, digunakan masyarakat kerajinan bernilai ekonomis. (cem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here