Tim Sosialiasi Rumah Tahan Gempa Dilempari Warga

Ilustrasi pelemparan rumah

Mataram (Suara NTB) – Berbagai kendala dihadapi tim Satgas Rekonstruksi dan Rehabilitasi pascagempa Lombok – Sumbawa. Mereka harus berdahapan dengan berbagai sikap dan penolakan warga. Saat bersamaan, upaya mempercepat penyelesaian dampak gempa terus dilakukan jelang akhir Desember.

Informasi pelemparan batu itu diterima  Kogasgabpad Selasa, 28 November 2018 lalu, kejadian di masjid Ainal Yaqin Dusun Teluk Nara Desa Malaka Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU).

Iklan

 

“Kejadian pelemparan batu oleh warga Dusun Teluk Nare, Desa Malaka, Kecamatan  Pemenang itu pada saat kegiatan sosialisasi rumah tahan gempa,” demikian informasi diteruskan Komandan Kogasgabpad Kol. Inf. H. Farid Makruf, MA diteruskan ke Suara NTB, Sabtu, 1 Desember 2018

Reaksi keras berupa pelemparan batu itu dipicu penolakan dari sekelompok warga yang tidak setuju pembentukan Pokmas. Warga tersebut memaksa agar diberikan dalam bentuk tunai, sebagaimana informasi awal senilai Rp50 juta per Kepala Keluarga (KK). Padahal menurutnya, juklak – juknis tidak boleh dilanggar. Pokmas harus dibentuk berikut perangkat lainnya seperti fasiltator dan aplikator, sebagaimana tertuang dalam juklak – juknis.

Akhirnya pihak teritorial dari Koramil setempat diterjunkan untuk mengamankan situasi.  Pihak TNI mendampingi masyarakat agar sosialisasi tetap kondusif walau tanpa ada hasil kesepakatan. Karena warga tetap ngotot, akhirnya pembahasan akan diagendakan lagi.

Kerja Satgas dalam percepatan pembangunan rumah tahan gempa ini tidak mudah, sebab saban hari menemukan beragam kendala. Sebagaimana update informasi diterima Pokso pada Jumat (30/11) terkait konsistensi warga.

Adanya perubahan minat warga untuk jenis rumah tahan gempa. Warga ada yang berpindah ke Pokmas lain, padahal sudah terdata di Pokmas awal. “Sehingga tim fasilitator membuat data baru,” kata mantan Danrem 162/WB ini.

Masalah lainnya, tenaga kerja di tiap aplikator di luar BUMN kurang. Ditambah pemberdayaan masyarakat sekitar dan minat kerja warga kurang sehingga pembuatan panel semakin lambat.

Atas dua kendala itu, pihaknya berkoordinasi dan mendampingi fasilitator untuk mempercepat pembuatan Pokmas yang baru, sesuai dengan keinginan warga terdampak.  Kemudian, mengkoordinasikan kepada aplikator agar segera mendatangkan tenaga kerja yang mumpuni serta jajaran Satgas. “Ini untuk  mengupayakan pengerahan personel Satgas yang sudah mumpuni dalam pembuatan panel Risha untuk membantu percepatan di tempat Aplikatornya,” kata Farid Makruf.

Kendala kendala lain yang sedang diatasi seperti  masih ada pengungsi yang membutuhkan Huntara sebelum rekonstruksi. Masih banyak ditemukan keterlambatan datangnya baut-baut panel untuk pemasangan Risha, sehingga  membuat proses pembangunan tertunda.

Kurangnya sarana transportasi pengangkutan material panel Risha dari Aplikator di wilayah Loteng ke Pokmas wilayah KLU. Kemudian masih ada ditemukan panel yang rusak dan tidak sesuai spek ukuran setelah tiba di lokasi Pokmas.

Sehingga upaya yang dilakukan,  mendatangkan bahan-bahan material untuk mendirikan Huntara sambil menunggu proses rekonstruksi. Mengkoordinasikan dengan Aplikator untuk menyegerakan pengadaan dan pengiriman baut-baut panel yang dibutuhkan Pokmas, mengupayakan kendaraan angkut Pemda atau menyewa kendaraan di wilayah setempat untuk mempercepat proses pendistribusian panel Risha.

Selanjutnya, menekankan kepada fasilitator agar lebih mengecek panel yang akan didistribusikan di tempat Aplikator sebelum diantarkan ke Pokmas.

Sementara update terbaru pengerjaan rumah tahan gempa di daerah terdampak,  rumah Risha sudah terbangun 15 unit dan dalam proses pembangunan 1.271 unit, dari total minat 4.132 KK. Kegiatan pembangunan proses pemasangan spandek untuk atap dan penggalian tanah untuk pondasi.

Sedangkan rumah konvensional sudah jadi 19 unit dari minat 3.390 KK.  Sementara sedang dibangun 442 unit progress.

Rumah Kayu sudah jadi 6 unit dari minat 3.123 KK. Sementara sedang proses dibangun 167 unit. Tambahan lain, RCI (Rumah Cetak Raswari Indonesia)  sedang dibangun 8 unit dengan minat 40 KK.

Sementara update jumlah Pokmas yang terbentuk 1.151 Pokmas, dengan jumlah KK akan ditangani 13.862 KK. Sementara 881 Pokmas sudah memiliki SK untuk menangani 10.559 KK. Di catatan lain, Pokmas yang  rekeningnya sudah terisi sebanyak 762 kelompok untuk penanganan 7.559 KK.

Dari jumlah itu diakui Farid belum semuanya terpenuhi. “Sebab Pokmas yang seharusnya dibentuk dan memiliki SK  adalah 74.092, dengan estimasi satu Pokmas menangani 10 KK. (ars)