Tim Medis RSUD Praya Jalani Karantina

Ilustrasi Karantina Tim Medis. (Pixabay)

Praya (Suara NTB) – Sebanyak 13 tenaga medis RSUD Praya yang ditugaskan khusus untuk menangani pasien positif Corona (Covid-19) sejak sepekan terakhir mulai diinapkan di Illira Hotel Praya, sebagai tempat “karantina” selama masa tanggap darurat Covid-19. Para tenaga medis tersebut sementara tidak diperkenankan untuk pulang dulu ke rumahnya masing-masing, guna memutus mata rantai penyebaran virus Corona.

“Jadi begitu selesai bertugas menangani pasien positif Corona di RSUD Praya, para tenaga medis ini tidak pulang ke rumahnya. Tapi kita inapkan di hotel sebagai asrama sementara, selama penanganan Covid-19,” ungkap Direktur RSUD Praya, dr. Muzakir Langkir, Kamis, 30 April 2020.

Iklan

Pihaknya dalam hal ini tidak mau ambil risiko dengan mengizinkan para tenaga medis tersebut pulang ke rumahnya, karena khawatir bisa membawa virus Corona bagi anggota keluarganya. Mengingat, para tenaga medis inilah yang berinteraksi langsung dengan para pasien positif Corona yang saat ini tengah dirawat di RSUD Praya.

Meskipun dari hasil tes yang dilakukan pihaknya terhadap para tenaga medis tersebut, sementara semua hasilnya negatif. “Langkah kita menginapkan para tenaga medis ini sebagai upaya mencegah potensi penyebaran virus Corona di daerah ini. Dan, itu akan dilakukan selama masa penanganan tanggap darurat Covid-19,”  terangnya seraya menambahkan, pemeriksaan kesehatan kepada tenaga medis akan dilakukan secara berkala.

Selain tenaga medis perawat, RSUD Praya juga sudah menugaskan enam dokter spesialis serta dokter umum untuk menangani pasien positif Corona. Tetapi untuk dokter spesialis dan dokter umum tidak diinapkan. Kendati pihaknya juga sudah menyiapkan asrama khusus. “Ada pertimbangan lain kenapa untuk dokter spesialis dan dokter umum tidak ikut diinapkan,” jelas Langkir.

Lebih lanjut, Langkir menambahkan, selain fasilitas penginapan para tenaga medis yang menangani pasien Covid-19 tersebut juga diberikan beberapa fasilitas tambahan. Salah satu berupa insentif tambahan di luar gaji dengan besaran untuk tenaga perawat sebesar Rp 5 juta per bulan. Sedangkan dokter umum dan spesialis masing-masing Rp 10 juta dan Rp 15 juta per bulan.

Insentif tersebut diharapkan bisa menjadi penambah semangat bagi para tenaga medis untuk memberikan kinerja terbaik dalam menangani pasien Covid-19. Walaupun disadari risiko yang dihadapi jauh lebih besar dari insentif yang diberikan tersebut.

“Besaran insentif yang diberikan tersebut sudah diatur oleh Peraturan Kemenkes. Dan, memang insentifnya diberikan langsung oleh pemerintah pusat. Bukan dari pemerintah daerah,” imbuhnya. Memang ada rencana pemerintah daerah juga akan memberikan insentif tambahan. Tetapi tidak dibolehkan oleh aturan, sehingga yang disiapkan oleh pemerintah daerah hanya penginapan saja. (kir)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional