Tim Kuasa Hukum Tagih Pengungkapan Fakta Baru di Kasus Pembunuhan Linda Novitasari

Tersangka Rio saat digiring polisi dalam pemeriksaan beberapa waktu lalu. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Tim kuasa hukum mendesak penanganan kasus pembunuhan Linda Novitasari (23) dapat lebih lengkap. Sejumlah fakta belum diungkap di tahap penyidikan. Padahal, hal itu berkaitan dengan unsur pembuktian pidananya. Sejalan dengan petunjuk P-19 yang diberikan jaksa peneliti Kejari Mataram.

“Ini supaya jelas pasal yang disangkakan. Ini kan masih antara penganiayaan atau pembunuhan,” ungkap Ketua Tim Penasihat Hukum Montani Para Liberi Hadi Muchlis dikonfirmasi Jumat, 25 September 2020.

Iklan

Menurutnya, peristiwa hukum yang membuat Linda meregang nyawa pada Kamis, 23 Juli 2020 lalu sudah jelas menunjukkan indikasi pembunuhan. Bukannya penganiayaan yang menyebabkan meninggal dunia.

“Bahkan bisa pembunuhan berencana. Kalau mencekik kan sudah jelas ingin menghentikan aliran nafas. Mana ada penganiayaan mencekik. Mencekik kan sudah jelas niatnya membunuh,” jelasnya.

Hadi yang juga alumni Wapala FH Unram ini ingin memastikan rangkaian kejadian sampai akhirnya Linda dibunuh. Dia menunjukkan foto yang merekam bekas luka di bagian ketiak, luka melepuh dan bekas ikatan tali di kaki, serta lebam di mata dan bibir kanan.

“Kita mendorong pengenaan pasal yang tepat. Tidak menutup kemungkinan ada saksi lain. Kami ingin agar penyidik lebih jeli dan lengkap melihat unsur pidana dalam kasus ini,” terangnya.

Demikian juga mengenai alibi yang dibangun tersangka, Rio Prasetya Nanda (22). Sebab, dia mendapati pesan instan dari nomor korban Linda pada Sabtu, 25 Juli 2020. Hari yang sama korban ditemukan tergantung. Padahal korban diduga telah dibunuh dua hari sebelumnya.

Pesan itu pada intinya, bahwa korban seolah minta dinikahi dengan berkata meminta Rio melamar. Dan, Rio pada saat itu sudah menjanjikan proposal menikah itu ke orang tuanya. Hadi menduga itu adalah pesan palsu.

‘’Itu perlu didalami. Siapa yang punya akses ke nomor korban. Nomor itu intensi berkomunikasi dengan siapa. Bisa dianalisa percakapannya,’’ tambah Hadi.

Dia menyatakan pihaknya siap bekerjasama dengan penyidik untuk membuat kasus itu lebih terang. Tujuannya demi keadilan bagi keluarga Linda yang kehilangan putri calon mahasiswi magister ilmu hukum.

“Kami dari kuasa hukum korban memberikan dukungan dan atensi atas perkembangan penanganan perkara ini,” pungkasnya.

Rio disangka membunuh Linda pada Kamis, 23 Juli 2020 petang di Perumahan Royal Mataram. Tersangka mencekik leher korban. Tubuh korban kemudian digantung di ventilasi. Pembunuhan diduga dipicu tersangka yang dimintai pertanggungjawaban atas kehamilan korban.

Tersangka bahkan membuat alibi dengan kabur ke Bali pada Jumat, 24 Juli 2020. Alasannya, mengantar adik yang hendak tes masuk perguruan tinggi. Tersangka Rio dijerat dengan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan atau pasal 351 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan orang meninggal dunia.

Kasatreskrim Polresta Mataram AKP Kadek Adi Budi Astawa sebelumnya menyatakan sudah menerima petunjuk P-19 dari jaksa. Petunjuk itu menandakan berkas perkara tersangka Rio belum lengkap. “Kita akan lengkapi,” ucapnya.

Petunjuk jaksa itu antara lain meminta penyidik memperjelas penyebab luka di tubuh korban, motivasi tersangka membuat alibi pergi ke Denpasar Bali dan orang yang memfasilitasinya, serta mengenai bukti dokumen hasil USG yang menunjukkan korban Linda yang menderita sakit kista. (why)