Tikungan Terakhir di Kawasan Mandalika

Uswatun (9), beristirahat sembari menunggu calon pembeli yang berlibur ke Kuta Beach Park, Kawasan Mandalika, Lombok Tengah, Sabtu, 15 Agustus 2020. (Suara NTB/aan)

Mimpi untuk membangun Kawasan Mandalika adalah sebuah mimpi yang tidak singkat. Sejak pembebasan lahan kawasan itu dimulai 31 tahun silam, warga NTB telah lama menanti pengembangan kawasan ini. Kini, kita semua ibarat menyongsong tikungan-tikungan terakhir dari penantian panjang ini.

DI tangan Uswatun (9), papan kayu dengan gelang dan aksesoris itu sudah seperti etalase mini. Ia mengepitnya erat. Setiap orang datang, Uswatun akan mendekat. Ia lalu menyorongkan papan itu. Kemudian, wajahnya mengulas senyum tipis.

Iklan

Selanjutnya, ia nyaris tidak berkata-kata, kecuali permintaan untuk membeli aneka gelang dan aksesoris yang melingkari papan itu.

Jika yang ia tawari tidak merespon, Uswatun bisa menahan ekspresinya beberapa saat. Ketika calon pembeli tak kunjung menyambut tawarannya, barulah, raut wajahnya akan berubah. Senyumnya semakin tawar, lalu rautnya mulai memelas.

Kepada Suara NTB, siasat ini cukup berhasil. Ia tersenyum simpul saat kami menyodorkan pembayaran untuk beberapa gelang cantik aneka warna. Puas, ia kemudian duduk di bawah pohon di pinggir pantai. Satu papan tetap ia kepit, sementara satu lainnya diletakkan di bangku.

Hari itu, Sabtu, 15 Agustus 2020, adalah seperti hari-hari lainnya bagi Uswatun. Ia telah menjalani aktivitas ini sejak beberapa tahun lalu. Uswatun tidak sendirian, ada banyak anak-anak lain yang juga menjajakan aneka aksesoris untuk wisatawan yang datang ke Kuta Beach Park, Mandalika, Lombok Tengah.

Kepada Suara NTB, Uswatun mengaku menikmati ‘bisnis kecilnya’. Teman-teman Uswatun juga tampak riang di tengah aktivitas mereka berjualan di pinggir pantai.

Selain anak-anak seperti Uswatun, ada pula ibu-ibu yang menjajakan kain tenun tradisional Sasak kepada pengunjung. Bedanya, mereka menunggu pembeli di areal taman di pinggir pantai ini.

“Alhamdulillah, inilah penglaris,” ujar Inaq Rajim (60), dalam bahasa sasak. Beberapa lembar seratus ribuan dan lima puluh ribuan ia kipas-kipaskan di atas kain tenun yang ia jajakan. Inaq Rajim baru saja mendapatkan lembar-lembar rupiah dari pembeli pertamanya hari itu.

Tak seperti Uswatun, Inaq Rajim adalah ‘aktor ekonomi’ dari generasi yang berbeda. Inaq Rajim telah berdagang di pantai ini lebih dari 20 tahun silam. “Dulu, ini masih hutan, banyak turis dijambret,” tuturnya, dalam bahasa Sasak berdialek khas Lombok Tengah bagian selatan.

Selama puluhan tahun berdagang di Kuta, Inaq Rajim telah menyaksikan bagaimana kawasan tumbuh menjadi semakin modern. Harapan Inaq Rajim tidak muluk. Ia ingin, modernisasi di kawasan ini tetap memberikan ruang usaha bagi orang-orang seperti dirinya.

Bukan Destinasi Biasa

Operation Head PT. Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), I Made Pari Wijaya menuturkan, mimpi untuk menyulap Mandalika sebagai kawasan wisata modern dan berkelas dunia sudah dirintis sejak tahun 1989.

Saat itu, pembebasan lahan untuk membangun kawasan wisata modern telah dilakukan. Sejak itu pula, banyak rencana-rencana besar telah silih berganti di Mandalika. Banyak upaya telah dilakukan. Namun, baru sedikit yang berhasil.

Sejak 2008, estafet pengelolaan kawasan itu pun telah diserahkan kepada PT. Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC). Dan kini, 12 tahun berselang, kawasan Mandalika kembali membangkitkan harapan. Tidak tanggung-tanggung, harapan yang disuguhkan adalah menjadikan kawasan ini sebagai lokasi perhelatan MotoGP.

MotoGP bukan perhelatan olahraga biasa. Ia merupakan salah satu ajang olahraga paling populer di muka bumi. Pari Wijaya menjelaskan, berdasarkan estimasi Dorna, selaku penyelenggara MotoGP, 150 ribu penonton diperkirakan hadir selama tiga hari penyelenggaraan balap motor ini.

Menggelar MotoGP di 2021 bukanlah target main-main. Dan bila terealisasi, perhelatan ini akan melambungkan Kawasan Mandalika ke destinasi papan atas dunia. Tak heran jika ITDC pun menarik gas cukup kencang.

Pari Wijaya menyebutkan, sepanjang 2019 saja, ITDC telah membangun Masjid Nurul Bilad, sentra UKM dan sarana prasarana infrastruktur jalan di zona barat dan zona tengah. Dan juga, ada sebagian di zona timur. ITDC juga telah membangun Kuta Beach Park sebagai ruang publik. Di zona barat juga telah tersedia 780 kamar homestay.

Pantauan Suara NTB akhir pekan kemarin, meski pandemi belum berakhir, kesibukan membangun kawasan ini juga terus bergerak. Sejumlah pekerja hilir mudik di rangka-rangka beton bangunan hotel di sekitar Kuta Beach Park.

Aktivitas pembangunan sirkuit MotoGP di zona tengah juga memperlihatkan perkembangan dari hari ke hari. Menurut Pari Wijaya, gelaran MotoGP di Kawasan Mandalika merupakan wujud dari konsep sport and entertainment destination yang akan menjadi ciri khas kawasan wisata ini.

ITDC meyakini, gelaran MotoGP di Mandalika akan menjadi media promosi yang sangat efektif untuk memperkenalkan Lombok di kancah internasional.

Proses pembangunan kawasan ini pun sudah akan mulai mendorong perekonomian NTB, khususnya melalui investasi di kawasan ini. “Kami perkirakan tahun 2020-2021, akan beredar investasi di sekitaran Lombok Tengah dan Mandalika hampir Rp3,5 triliun. Ini merupakan peluang yang dapat memberikan manfaat kepada masyarakat,” katanya.

Pari Wijaya menyebutkan, ada enam proyek strategis yang dilaksanakan pada 2020 dan 2021. Pertama, proyek jalan nasional yang menghubungkan Bandara Internasional Lombok ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Nilai proyeknya di atas Rp800 – 900 miliar. Kedua, proyek infrastruktur paket I dari The Mandalika. Pendanaan sudah didapatkan ITDC  dari Asia Infrastructure Investment Bank (AIIB) dengan nilai proyek di atas Rp500 miliar. Ketiga, proyek infrastruktur paket II dari The Mandalika, yakni membangun infrastruktur di sebelah timur, atau di area Tanjung Aan dengan nilai proyek  di atas Rp500 miliar. Keempat, proyek pembangunan Hotel Pullman. Dimana, ITDC sudah mendapatkan pendanaan untuk melanjutkan pembangunan Hotel Pulman dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia atau Indonesia Eximbank. Lanjutan pembangunan proyek Hotel Pullman direncanakan kembali berjalan pertengahan tahun ini. Kelima, kata Wijaya adalah proyek pembangunan sirkuit MotoGP Mandalika. Dan keenam, proyek pengendali banjir barat yang dilakukan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I.

Namun, investasi berskala besar itu akan kehilangan makna pentingnya jika kawasan ini tidak mampu memecahkan problem kemiskinan dan pengangguran di sekitarnya.

Karena itulah, upaya untuk mengkoneksikan kawasan ini penyerapan tenaga kerja lokal mulai diseriusi. Pari Wijaya mengutarakan, berdasarkan pengalaman membangun Nusa Dua, sekitar 20-30 persen masyarakat desa penyangga yang akan diserap perhotelan di dalam kawasan. Kemudian, 40-50 persen masyarakat Lombok, 15-18 persen masyarakat Indonesia dan 1-1,5 persen tenaga kerja asing. Sementara, untuk memajukan UMKM lokal, saat ini juga telah dibangun lebih dari 300 lapak UMKM di Kawasan The Mandalika.

Serap Ribuan Tenaga Kerja

Sementara itu, Managing Director ITDC, I Wayan Karioka menyebutkan bahwa kebutuhan SDM di kawasan ini terbagi dalam dua kelompok atau tahapan.

Untuk tahapan konstruksi, diperkirakan sebanyak 900 tenaga kerja akan terserap pada 2020. Lalu pada 2021 sebanyak 2350 orang dan pada 2022 sebanyak 2350 orang. Sementara pada fase operasional, diperkirakan sebanyak 450 orang terserap pada 2020, 900 orang pada 2021 dan 1050 pada 2022.

“ITDC sudah bertemu Disnakertrans Provinsi NTB, Kabupaten/Kota, BLK dan SMK untuk sinkronisasi penyiapan SDM,” sebut Wayan Karioka, Selasa, 18 Agustus 2020.

Wayan menambahkan, infrastruktur utama sirkuit jalan raya MotoGP juga terus dikerjakan. Saat ini, pengerjaan struktur lapis bawah sirkuit sudah mencapai 60 persen, struktur likuifaksi mencapai 45 persen, struktur lapis atas sisi timur segmen S14 dan pek tunnel sisi utara dan sisi selatan.

Sementara itu, sejumlah proyek pendukung dari kementerian/lembaga juga sedang berjalan, yaitu saluran pengendali banjir, oleh Kementerian PUPR, Gedung RS International yang dibangun oleh Kementerian Kesehatan RI dan penghijauan bukit pink, oleh Kementerian Lingkungan Hidup.

Wayan mengutarakan, selama pandemi Covid-19, pekerjaan infrastruktur utama dan pendukung, maupun pemeliharàan kawasan, tetap berjalan. Hanya saja, pekerjaan dilakukan dengan menerapkan protokol Covid-19 dan pengawasan yang ketat.

Kepala Dinas Pariwisata NTB, H. L. Moh. Faozal, S.Sos, M.Si, dalam diskusi dengan Suara NTB, Kamis, 27 Februari 2020 lalu menegaskan, Kawasan Mandalika merupakan salah satu dari lima destinasi yang telah ditetapkan pemerintah sebagai destinasi super prioritas di Indonesia.

Menurutnya, dari lima destinasi super prioritas itu, capaian pembangunan kawasan The Mandalika memang nomor satu. Namun, Faozal mengakui, ekspektasi publik di NTB masih lebih tinggi ketimbang capaian yang diraih ITDC saat ini. Untuk itulah, ia menegaskan, semua pihak, khususnya ITDC, harus lebih serius menuntaskan pembangunan kawasan ini. Upaya ini menurutnya penting untuk menjawab keraguan sejumlah pihak terkait akan terselenggaranya MotoGP Mandalika.

Faozal menilai, hari demi hari menuju penyelenggaraan MotoGP Mandalika akan menjadi waktu yang cukup kritis dan menentukan keberlanjutan pembangunan kawasan ini. “Ini waktunya kita berjibaku bersama ITDC,” seru Faozal.

Seruan Faozal tidaklah berlebihan. Seperti halnya balapan MotoGP yang selalu mendebarkan hingga tikungan terakhir, pembangunan Kawasan Mandalika juga kini segera memasuki babak paling ditunggu. (aan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here