Tiga Tarian Khas Dompu Terancam Punah

Ilustrasi

Dompu (Suara NTB) – Sedikitnya tiga jenis tarian tradisional khas Dompu kini terancam punah, seperti tari sere, toja dan manca. Tidak adanya regenerasi kesenian dan sulitnya tarian itu dilakoni dianggap pemicu utama. Karenanya, Disbudpar melalui sanggar-sanggar yang bermunculan saat ini berkomitmen melestarikan salah satu identitas daerah tersebut.

Kabid Kebudayaan Disbudpar Dompu, Wahyono Ragil kepada wartawan mengakui, tiga jenis tarian khas daerah tersebut memang terancam punah. Kalaupun ditonjolkan hanya pada kegiatan-kegiatan tertentu saja dan terbatas orang yang bisa melaksanakannya.

Iklan

“Sere, toja dan manca itu yang sekarang hampir punah, kalau ada kegiatan tertentu saja baru ditonjolkan. Itupun terbatas orang yang bisa melaksanakannya,” kata dia.

Menurut informasi, tiga jenis kesenian asli daerah tersebut merupakan tarian pokok untuk penyambutan tamu di masa kerajaan. Sehingga disayangkan jika salah satu identitas daerah tersebut dibiarkan punah begitu saja.

Sebagai bentuk tanggung jawabnya, lanjut Wahyono Ragil, internalnya sudah menyiapkan anggaran khusus untuk pelestarian kesenian budaya bagi sanggar atau komunitas. “Kita akan bantu fasilitasi, inilah salah satu bentuk tanggung jawab kami membangkitkan kembali tarian atau atraksi seni budaya yang pernah ada,” jelasnya.

Kendati sokongan anggaran dari Disbudpar untuk pelestarian kesenian budaya ini ada, namun dirasa masih belum cukup memadai. Tak heran dari puluhan sanggar yang mucul sebagian diantaranya vakum karena tak adanya sarana prasarana latihan.

Sementara panggung umum yang dibagun untuk menjawab kebutuhan tersebut kini tak bisa lagi dimanfaatkan setelah kantornya berpindah ke lantai tiga Setda Dompu. Kantor lama saat ini ditempati Disdukcapil setempat.

“Di kantor lama kan ada tempat latihan untuk sanggar-sanggar itu setiap sore, karena dipindah ke sini ya tidak bisa dimanfaatkan. Kita mau pentas setiap malam minggu juga disini sudah tidak bisa,” pungkasnya. (jun)