Tiga Siswa Nyaris Tenggelam, Wakil Walikota Mataram Nyebur ke Kolam MWP

Mataram (Suara NTB) – Pengoperasian Mataram Water Park (MWP) setelah delapan tahun mangkrak, Rabu, 21 Februari 2018 diwarnai insiden. Baru sekitar lima menit diresmikan oleh Plt Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana, tiga siswa  nyaris tenggelam karena mengalami kram saat menjalani proses pemanasan pada lomba renang.

Tiga siswa nyaris tenggelam yakni M. Rofi dan Wahyu Nugroho. Dan, satu atlet renang lainnya yaitu Made. Rofi dan Wahyu yang merupakan atlet renang dari SMPN 1 Mataram mengambil posisi pemanasan pada lintasan nomor 6.

Iklan

Setelah berenang sejauh 15 meter. Wahyu tiba – tiba timbul – tenggelam dari permukaan air. Demikian pula, Rofi yang berada di belakang rekannya turut tenggelam. Peristiwa itu sontak mengejutkan tamu undangan dan penonton yang berada di kursi dan tribun. Mohan yang melihat kondisi tersebut langsung melompat menyelamatkan kedua siswa itu.

Aksi heroik Plt Walikota yang belum sepekan menjabat ini, langsung direspon oleh petugas lainnya. Kadispora, Amran M. Amin, ajudan Walikota, Gerit, dua anggota Satpol PP dan petugas lainnya turut terjun ke kolam menyelamatkan korban.

Dua siswa baru duduk di bangku kelas VIII langsung mendapatkan perawatan tim medis. Tak berselang lama dari kejadian awal, satu siswa yakni Made juga mengalami peristiwa serupa pada lintasan 6. Posisi tenggelamnya Made sama persis dengan posisi dua perenang sebelumnya.

Petugas penyelamat langsung berenang menyelamatkan korban. Kondisi fisik korban lemah, tim medis langsung melarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan instensif. Atas peristiwa tersebut, panitia penyelenggara langsung menghentikan lomba renang.

Menanggapi hal itu, Kepala Bagian Humas dan Protokoler Setda Kota Mataram, Lalu Mashun mengklarifikasi tenggelamnya tiga siswa itu. Menurutnya, tidak ada hal – hal yang berkaitan dengan mistis terhadap peristiwa itu. Karena, dari keterangan pelatih dan korban bahwa mereka belum menjalani pemanasan.

“Kita tidak menyebut ini sebagai hal mistis. Kita sudah tanya tadi mereka ada yang belum sarapan dan pemanasan kurang,” dalih Mashun.

Penghentian sementara lomba renang kata dia, karena pemerintah dan panitia penyelenggara tidak ingin mengambil resiko. Tetapi lomba ini akan tetap dilanjutkan, namun Mashun tidak menyebutkan hingga kapan waktunya.

“Lombanya ditunda dulu. Kegiatan akan dilaksanakan dalam beberapa hari ke depan,” ucapnya.

Lalu bagaimana pertanggungjawaban pemerintah terhadap korban? Mashun menjawab pemerintah akan bertanggungjawab sepenuhnya bilamana atlet renang menjadi korban membutuhkan perawatan. Bahkan, Dispora berencana akan berkunjung ke kediamanan siswa itu sebagai bentuk perhatian pemerintah.

Sementara itu, Plt Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana mengatakan, tindakannya menyelamatkan korban spontanitas saja. Sejak awal, ia memperhatikan Wahyu saat mulai lomba untuk pemanasan hingga tenggelam pada jarak 15 meter.

“Dari awal memang saya lihat berbeda. Makanya begitu saya lihat dia timbul tenggelam, saya langsung loncat. Bayangkan saya saja tidak bisa berenang karena masih pakai sepatu,” jawab Mohan. Terlepas dari peristiwa itu, Mohan tetap meminta lomba digelar dan MWP dioperasikan sebagaimana rencana awal sebelumnya.

Tenggelamnya tiga siswa, percaya atau tidak bisa dikaitkan dengan hal mistis. Sebab, korban menuturkan saat berada di tengah kolam kakinya terasa ditarik ke bawah. “Kayak ada yang narik ke bawah gitu,” tuturnya.

Penuturan berbeda disampaikan Rofi. Ia mengaku bertabrakan dengan rekannya, sehingga mengalami pusing, sehingga keseimbangannya terganggu. “Tadi nabrak Wahyu di tengah. Saya ndak keram,” jawabnya. (cem)