Tiga Mesin Bantuan Kementan Mangkrak

Mataram (Suara NTB) – Tiga mesin pemanen padi yang merupakan bantuan Kementerian Pertanian (Kementan) tahun 2017 belum difungsikan alias mangkrak. Bantuan itu terlihat terparkir berbalut kain di halaman Kantor Dinas Pertanian Kota Mataram.

Tak digunakan tiga alat itu kata Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, Ir. H. Muttawali karena tidak ada kelompok petani yang siap mengoperasikan. Ia menyebutkan, Pemerintah Pusat khususnya Kementerian Pertanian memberikan tujuh unit alat pemanen padi.

Iklan

Empat alat dengan kapasitas kecil telah terdistribusikan ke kelompok tani. Sementara, tiga unit ini masih didiamkan. “Masalahnya itu tidak ada yang bisa mengoperasikan,” kata Muttawali, Rabu, 13 September 2017.

Ia mengaku, pihaknya memang mengusulkan ke Kementerian Pertanian. Kemungkinan pengadaan banyak sehingga diberikan mesin ukuran besar. Muttawali menjelaskan, pemberian bantuan mesin pemotong padi ke petani ini sistemnya pinjam pakai. Artinya, petani mengajukan permohonan peminjaman sekaligus menyiapkan biaya untuk operasional dan alat pengangkut lainnya.

Pihaknya tidak menganggarkan operasional karena kebetulan bantuan itu datang setelah pembahasan APBD Perubahan. “Jadi kita tidak menganggarkan,” jawabnya. Pola di Dinas Pertanian sambungnya, dikerjasamakan dengan petani. Operasional tanggungjawab petani sementara biaya pemeliharaan dibebankan ke dinas.

Ada kekhawatiran jika mesin diserahkan ke petani tidak akan diperhatikan biaya pemeliharaannya. Sementara mesin ini ada saja onderdil yang aus atau perlu diperbaiki. “Barang seperti ini kan cepat aus. Kita khawatir di situ kalau ini diserahkan ke petani,” tuturnya.

Satu mesin pemotong padi ukuran kecil bisa menjangkau satu – dua hektar tanaman dalam waktu satu jam. Untuk kapasitas besar bisa memotong tanaman padi puluhan hektar.

Dibandingkan dengan kondisi lahan pertanian di Kota Mataram relatif ukuran sawahnya tidak terlalu luas. Sehingga, petani khawatir menggunakan ukuran besar karena akan merusak sawah mereka. “Kalau mesin itu dipakai petani khawatir lahannya rusak,” tambahnya.

Tindaklanjut pemanfaatan mesin itu sedang dibahas dengan kelompok tani. Ada satu petani bersedia mengoperasikan satu unit dengan sistem kerjasama. (cem)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional