Tiga Juta Warga NTB akan Divaksinasi Covid-19

Ilustrasi vaksin. (Gambar oleh Dimitri Houtteman dari Pixabay)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Kesehatan (Dikes) NTB menyebut sekitar 50 – 60 persen warga di daerah ini akan divaksinasi Covid-19 secara bertahap. Sebanyak 50 – 60 persen warga NTB tersebut, yaitu mereka yang berusia 18 – 59 tahun, jumlahnya sekitar 2,5 – 3 juta jiwa.

‘’Kalau kita hitung usia 18 – 59 tahun sekitar 60 persen penduduk NTB. Sekitar 50 – 60 persen dari jumlah penduduk NTB yang akan divaksin. Jumlah penduduk NTB sebanyak 5,2 juta jiwa. Maka sekitar 2,5 – 3 juta jiwa (akan divaksin Covid-19),’’ sebut Kepala Dikes NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A dikonfirmasi Suara NTB, Jumat, 30 Oktober 2020.

Iklan

Sementara anak usia 0 – 18 tahun tidak akan divaksin. Jumlah anak umur 0 – 18 tahun di NTB sekitar 25 persen dari total penduduk di daerah ini. Nantinya, akan ada skrining bagi orang-orang yang punya penyakit komorbid untuk divaksin. Namun, bagi yang punya penyakit komorbid kategori sedang dan berat, tidak akan divaksin Covid-19. ‘’Makanya sekitar 2,5 – 3 juta yang akan divaksin,’’ sebutnya.

Eka menjelaskan, vaksinasi akan dilakukan secara bertahap. Untuk tahap pertama, yang prioritas divaksinasi Covid-19 adalah petugas kesehatan, TNI dan Polri. Untuk petugas kesehatan, TNI dan Polri di NTB, kata Eka, jumlahnya tidak sampai 100 ribu orang.

Ia  menambahkan, untuk vaksinasi Covid-19 ini, sudah keluar Perpres No. 99 Tahun 2020. Di sana disebutkan bahwa untuk vaksinasi teknisnya diserahkan kepada Kementerian Kesehatan.

Kementerian Kesehatan sudah membuat roadmap, bagaimana pelaksanaan vaksinasi tersebut. Pemda, kata Eka, mengikuti roadmap dari Kementerian Kesehatan.

Ia menjelaskan, vaksinasi adalah pekerjaan yang dilakukan petugas kesehatan sehari-hari. Cuma diharapkan vaksinasi Covid-19 ini tidak mengganggu vaksinasi yang biasa. ‘’Vaksinasi biasa jalan, vaksinasi Covid-19 ini juga jalan,’’ harapnya.

Sebagaimana biasanya, lanjut Eka, kalau ada vaksin baru. Maka diawali dengan pelatihan petugas kesehatan dan vaksinator baik secara manajemen logistik maupun teknisnya di lapangan.

‘’Kalau sudah pelatihan, kita sudah membuat rencana aksi, maka kita kerjakan. Jadi step-stepnya seperti itu,’’ jelasnya.

Eka menyebutkan, NTB sudah punya tenaga yang akan melakukan vaksinasi di lapangan. Mulai dari tingkat Posyandu, Puskesmas dan rumah sakit. Namun, karena ini vaksin baru, maka petugas yang akan melakukan vaksinasi terlebih dahulu diberikan pelatihan.

‘’Setiap vaksin itu perlakuannya beda-beda, cara menyuntiknya berbeda, cara menyimpannya juga berbeda. Skrining terhadap pasiennya juga berbeda. Itu yang harus dilatih sekarang,’’ ujarnya.

Eka menyebutkan, tempat pelaksanaan vaksinasi juga sudah siap. Karena NTB memiliki sekitar 7.500 Posyandu, 172 Puskesmas dan 37 rumah sakit. Belum lagi klinik-klinik kesehatan yang bekerjasama dengan Dinas Kesehatan.

‘’Itu modal kita menjadi tempat menjalankan vaksinasi. Vaksinator yang selama ini melayani di Posyandu, Puskesmas dan rumah sakit,’’ pungkasnya. (nas)