Tiga Bulan Terakhir, Kiriman TKI Mencapai Rp 347 Miliar

????????????????????????????????????

Mataram (Suara NTB) – Kiriman TKI yang masuk ke NTB pada tiga bulan pertama tahun 2017 ini telah mencapai RP 347,9 miliar. TKI dari Saudi Arabia mendominasi jumlah kiriman tersebut.

Data yang dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB mencatat dari dua sumber, Bank Indonesia dan Kantor Pos. Tahun 2016 lalu, kiriman TKI mencapai Rp 1,7 triliun selama setahun.

Iklan

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Provinsi NTB, Ni Kadek Adi Madri, SE merinci jumlah kiriman TKI yang masuk ke NTB pada triwulan I 2017 ini. Bank Indonesia mengakumulasi jumlah kiriman TKI dari masing-masing bank sebanyak Rp 73 miliar lebih. Sementara dari PT. Pos tercatat sebanyak 274,8 miliar lebih.

“Kita sudah minta dari PT. Pos Indonesia masing-masing dari mana asalnya. Tapi sistemnya katanya belum mendukung,” kata Kadek di kantor BPS Provinsi NTB, Selasa, 2 Mei 2017.

Kiriman dari Bank Indonesia dirinci, terbesar dari Saudi Arabia sebesar Rp 41 miliar lebih, Malaysia Rp 4 miliar lebih. Uni Emirat Arab sebesar Rp 3 miliar lebih, dan masing-masing di bawah Rp 1 miliar adalah Qatar, Kuwait, Jepang, Hongkong, Singapura, Brunei Darussalam dan Negara-negara lainnya sebesar Rp 21 miliar lebih.

Terbesar masuk dari bank-bank yang ada di Kota Mataram, menyusul Sumbawa, Bima dan Lombok Tengah. Sementara kiriman melalui PT. Pos, paling tinggi masuk ke Lombok Timur, Loteng, Sumbawa, Lombok Barat, Mataram, Sumbawa Barat, Lombok Utara, Bima, Dompu dan Kota Bima.

Mengapa kiriman dari Saudi Arabia masih tinggi, padahal pemerintah telah memberlakukan moratorium? Kadek mengatakan, diketahui ada 50.000 TKI yang mendapat amnesti (pengampunan). Bisa jadi karena itu kiriman TKI dari sana masih tetap tinggi.

Ia juga menyebut pengakuan TKW yang ditemuinya di Kantor Imigrasi Mataram dalam satu kesempatan. Menurutnya, mereka banyak yang ke Saudi Arabia tidak melalui perusahaan. Sesampainya di sana, mereka tinggal dalam satu kontrakan antarsesama TKW-nya. Mereka menjadi pembantu rumah tangga panggilan, tanpa terikat kontrak.

“Ternyata mereka memasang tarif jauh lebih tingi dari TKW yang sudah terikat kontrak dengan majikan. Bisa jadi Karena faktor itulah, kiriman TKI dari Arab Saudi masih tinggi,” demikian Kadek. (bul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here