Tiang Pancang Dermaga di Gili Air Dibuang ke Laut

Tanjung (Suara NTB) – Pembangunan dermaga Gili Air, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU) dipertanyakan warga. Kades Gili Indah, H. M. Taufik, salah satunya, mempertanyakan adanya material pancang yang dibuang ke dasar laut oleh kontraktor.

Selain itu, sudah seminggu terakhir warga dan Kades  Gili Indah tidak melihat ada pekerja di lokasi proyek senilai Rp 7 miliar tersebut. ‘’Awalnya saya tidak tahu, setelah dapat info ternyata memang ada material itu. Saya minta anak menyelam mengambil bukti dokumen supaya tambah meyakinkan,’’ ujar Taufik kepada wartawan, Senin, 18 Desember 2017.

Iklan

Kades menyebut, jumlah tiang pancang dermaga yang dibuang ke dasar laut antara 7 sampai 9 biji. Meski lokasi pembuangan berada di zona pelabuhan, namun warga diakuinya, mengeluhkan cara kerja kontraktor tersebut.

Pasalnya kata dia, dalam kondisi material masih ada namun bangunan dermaga masih goyang (tidak kuat). Tersapu gelombang kecil saja, dermaga sudah goyang. Hemat Kades, jika material yang dibuang itu dipasang maka konstruksi dermaga akan lebih kuat. Sekilas disaksikannya, kedalaman tancap tiang tidak menghitung kondisi alam. Penancapan terlalu dangkal. Diduga pula proyek tidak sesuai dengan perencanaan, karena ada perubahan pengerjaan dari settingan awal.

‘’Bahkan ada material terpasang dalam kondisi tidak tegak. Sedangkan sudah satu minggu ini tidak ada tukang,’’ cetusnya sembari menambahkan telah melapor ke Bupati KLU atas persoalan tersebut.

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kelautan dan Perikanan Lombok Utara, Agus Tisno, S.Sos., mengatakan tiang pancang yang ada di dasar laut merupakan material sisa yang tidak terpakai. Material tersebut belum diangkat oleh kontraktor karena pekerjaan belum selesai.

‘’Dia beli (tiang) lebih sama perusahaan itu. Dengan asumsi seandainya nanti ada yang rusak (akan diganti), ternyata tidak ada yang rusak,’’ klaim Kadishub.

Lebih lanjut, Agus Tisno menyebut bahwa material itu sebenarnya akan diberikan ke pemerintah daerah oleh kontraktor. Bahkan pemberian tiang pancang merupakan komitmen pengusaha kepada Pemda. ‘’Itu pun, mereka tawarkan kalau mau jual silakan karena hadiahlah istilahnya. Karena dari perusahaaan mau angkut juga untuk apa,’’ sambungnya.

Tidakkah pemberian tiang pancang dicap sebagai gratifikasi?  ‘’ Tidak sih, sisa itu akan menjadi milik Pemda, saya akan lapor ke aset. Karena material itu akan diberikan ke Pemda,’’ jelasnya.

Hingga saat ini, progres pekerjaan dermaga diklaim telah mencapai 80 persen. Kontraktor tinggal mengetok beberapa tiang agar tingginya sama. Kondisi bahwa di sana tidak ada pekerja, disebabkan karena memang menunggu alat tiang pancang yang saat ini dirakit di darat – Teluk Nara. Setelah selesai dirakit, material pendukung itu akan diangkut ke Gili Air dan dipasang.

‘’Barusan saya juga dari sana ngecek. Tinggal pemasangan depan sudah selesai. Jadi hampir selesai itu. Saya yakin karena hanya beberapa saja yang belum selesai dan pemasangan tidak terlalu ribet. Tidak ada masalah dan tiang pancang akan diangkat kembali,’’ demikian Agus Tisno. (ari)