TGB Prioritaskan Pendidikan Agama, Bahasa dan Matematika untuk Anaknya

Mataram (suarantb.com) – Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi merasa prihatin dengan pendidikan anak sekolah saat ini. Terlalu banyak pelajaran yang diterima anak. Sehingga kemampuan dasar literasi dan numerasi yang penting justru kadang luput dari perhatian. Demikian pernyataannya pada acara peresmian implementasi program INOVASI di Ruang Rapat Umum Kantor Gubernur NTB, Selasa, 11 Oktober 2016.

“Anak sekolah sekarang dibanding dulu, membawa buku yang semakin banyak. Ini mencerminkan bahwa yang diserap oleh anak kita di sekolah, yang diwajibkan mereka untuk tahu itu menurut saya sudah terlalu banyak. Sehingga hal yang sangat penting itu luput,” jelasnya.

Iklan

Padahal menurutnya justru kemampuan ini yang harus dikuasai oleh anak. Saking pentingnya, gubernur mengatakan jika diminta memilih tiga pelajaran, ia akan pilih agama, bahasa dan matematika.

“Kalau anak saya disuruh memilih tiga dari pelajaran yang mereka pelajari. Maka sebagai orang tua saya akan katakan pada anak saya pilih tiga ; agama, bahasa dan matematika,” jawabnya.

Agama dipilih karena berperan penting dalam hidup. Agama pondasi kehidupan dan memberi makna dalam kehidupan.

“Bahasa itu penting, karena definisi manusia paling sederhana adalah makhluk yang berbicara. Salah bahasa saja bisa bikin ribut. Sedangkan Matematika tak dipungkiri memang tidak pernah lepas dari hidup manusia,” jelasnya.

Program Inovasi Untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) merupakan  kerjasama Pemerintah Australia dengan enam kabupaten di NTB; Lombok Utara, Lombok Tengah, Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu, dan Bima. NTB menjadi provinsi pertama di Indonesia yang berkomitmen menerapkan program INOVASI. Melalui program ini gubernur ingin agar sekolah diingatkan kembali akan pentingnya literasi dan numerasi untuk anak.

Program Director INOVASI, Jessica Ludwig-Maroof menjelaskan implementasi program ini akan berlangsung selama empat tahun (2016-2019). Anggaran yang disediakan sebesar 48 juta dollar Australia.

“Desain dari program ini belum selesai, karena kita bekerja sama dengan stakeholders lokal. Programnya disesuaikan dengan kebutuhan kelas dari sekolah yang bersangkutan. Sehingga kelasnya di desain bersama,” jelasnya. (ros)