TGB Minta Nobel Perdamaian Suu Kyi Dicabut

Mataram (Suara NTB) – Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi meminta pemerintah pusat bersikap lebih tegas menyikapi  tragedi kemanusiaan yang terjadi di Myanmar. Menurut Gubernur yang akrab disapa TGB ini, pemerintah Myanmar seharusnya mendapatkan sanksi tegas dari komunitas internasional. TGB juga menilai tokoh penerima Nobel Perdamaian Myanmar, Aung San Suu Kyi pantas dicabut nobelnya dan juga diberi sanksi atas sikapnya yang membiarkan kejadian ini.

Gubernur mendesak, pembantaian terhadap anak-anak dan perempuan etnis Rohingya segera dihentikan. Bahkan sebelum salat  Hari Raya Idul Adha 1438 H di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB, Jumat, 1 September 2017 pagi, Gubernur menyerukan kepada seluruh warga NTB bersedekah khusus untuk membantu muslim Rohingya yang sedang dalam cobaan luar biasa.

Iklan

“Kalau kita di sini berkurban dalam keadaan bersuka cita. Maka tidak boleh kita lupakan bahwa banyak saudara kita yang beridul Adha dalam keadaan sedih dan nestapa. Dalam keadaan bertumpah air mata. Saudara kita di Myanmar saat ini dalam keadaan cobaan yang luar biasa,” kata Gubernur.

Ia mengatakan dalam beberapa hari saja, ribuan umat Islam dibunuh dan dibantai. Sesuai dengan pesan Rasulullah SAW bahwa orang beriman itu ibarat satu tubuh. Jika  ada saudara  yang tersakiti, maka kita wajib merasakannya. Tentu, kata Gubernur,  tidak sekedar merasakan saja tetapi mengulurkan tangan untuk membantu mereka.

“Mari kita ulurkan tangan untuk membantu mereka. Maka, pada hari Raya Idul Adha ini khusus untuk sedekah kita pada pagi hari ini kita ikhlaskan apa yang kita sumbangkan untuk saudara kita yang ada di Myanmar. Saudara kita warga etnis Rohingya yang sekarang sedang ditindas. Demikian pun pada saat melaksanakan Salat Jumat, saya minta keikhlasan semua untuk menyiapkan infaq dan salurkan untuk membantu saudara kita,” pintanya.

Gubernur yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) ini menyatakan hal itu sebaik-baik persaksian atas keimanan kepada Allah SWT. Bahkan Rasulullah SAW, kata TGB, bahwa sedekah itu sebagai pembuktian yang tak terbantahkan atas keimanan seseorang.

Dikonfirmasi usai salat Hari Raya Idul Adha 1438 H, TGB menyatakan apa yang terjadi di Myanmar menimpa orang-orang yang sangat lemah, etnis yang didiskriminasi. Kemudian dalam pemberitaan beberapa hari terakhir, dilakukan pembantaian orang-orang tak bersenjata, anak-anak, kaum perempuan, orang tua yang jumlahnya ribuan orang.

“Sayangnya, komunitas internasional seperti menutup mata dan tidak ada pernyataan yang keras dari masyarakat internasional. Apalagi hukuman, sanksi bagi Pemerintah Myanmar yang membiarkan pembantaian seperti itu,” katanya.

TGB menegaskan warga NTB mendesak pemerintah pusat bersikap tegas. TGB menegaskan tidak ada agama di dunia ini yang mengajarkan pembantaian. “Dari seluruh sisi yang ada, kita semua di NTB meminta pada pemerintah pusat bersikap lebih tegas lagi terhadap tragedi kemanusiaan ini. Tak bisa dibiarkan ada satu pembantaian seperti ini,” tegasnya.

Pemerintah Myanmar diminta segera menghentikan pembantaian terhadap Muslim Rohingya. Bahkan hadiah Nobel yang diberikan kepada pemimpin Myanmar, menurut TGB layak dicabut. “Saya pikir orang yang mendiamkan pembantaian itu tak pantas dicatat sejarah sebagai penerima Nobel. Jadi, seharusnya dicabut dan bahkan harus dikasih sanksi internasional,” katanya.

Gubernur mengingatkan, masalah-masalah yang memiliki dimensi keagamaan potensial menjadi masalah. Bukan saja di Myanmar tetapi juga secara regional. “Kita minta dihentikan. Kita di NTB pada hari Jumat ini semua kotak amal diarahkan untuk saudara kita warga Rohingya yang sedang mendapat cobaan yang luar biasa ini,” tandasnya. (nas)

Advertisementfiling laporan pajak filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional